Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Thursday, November 17, 2016

FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM (2016)

Apakah penyihir benar-benar ada di dunia ini?

Pertanyaan sederhana itu akan muncul secara spontan saat kita membaca sebuah cerita atau menyaksikan kisah tentang para penyihir di layar lebar. Selanjutnya pertanyaan lain, apakah mereka baik atau jahat?, akan muncul tergantung pada jalan cerita yang kita lihat atau baca tersebut. Dan tahun ini, Warner Bros. Pictures mengeluarkan film terbaru mereka yang berjudul Fantastic Beasts and Where to Find Them.

Film ini merupakan spin-off serial Harry Potter yang sempat merajai film bertema tentang penyihir beberapa tahun lalu. Karakter Harry Potter yang diperankan oleh Daniel Radcliffe begitu melekat di mata penggemarnya. Dan di film inipun tokoh utamanya, Newt Scamander (Eddie Redmayne), memiliki pesona yang sangat luar biasa. Mengambil setting waktu 70 tahun sebelum era Harry Potter, film ini menceritakan tentang perjalanan seorang penyihir Inggris yang menyambangi New York untuk mencari hewan-hewan ghaib untuk diselamatkan.


Karakter lain yang juga ikonik yaitu Jacob Kowalski (Dan Fogler), seorang mantan buruh yang membantu Newt selama di New York. Beberapa adegan yang membuat penonton terbahak pun sebagian besar berasal dari Kowalski. Queenie Goldstein (Alison Sudol), adik Tina yang sangat centil. Serta Credence Barbone (Ezra Miller), penyihir yang memiliki kekuatan luar biasa di dalam dirinya. Tampilannya mirip dengan salah satu karakter di film Star Treck.

Film ini juga menjadi debut pertama J. K. Rowling sebagai penulis skenario sekaligus sebagai produser. Sedangkan sutradara masih dipegang oleh David Yates yang telah sukses membuat film Harry Potter dicintai penggemarnya. Uniknya, J. K. Rowling seolah memuji diri sendiri melalui percakapan antara Newt dan Kowalski.


Untuk visual efek dan backsound di film ini sangat bagus. Bahkan hal itu sudah ditampilkan sejak menit pertama film dimulai. Sayangnya plot twist yang diberikan di film ini masih bisa ditebak dengan cukup mudah.

Dan kabarnya, film ini akan dibuat dalam 5 seri. Tentu film ini akan sangat menarik untuk diikuti karena petualangan Mr. Scamander di film ini masih sangat sedikit yang diangkat ke layar lebar.

Secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Skor 8.2/10 layak diberikan untuk film ini.

Wednesday, January 6, 2016

STAR WARS: THE FORCE AWAKENS (2015)

Pertengahan Desember lalu pecinta film Indonesia dan penggemar Star Wars pada khususnya dimanjakan dengan kemunculan film ketujuh dari serial Star Wars. Film yang disutradarai oleh J. J. Abrams ini sukses menyedot perhatian penonton. Dan dalam film berjudul Star Wars: The Force Awakens ini, Abrams menggaet 2 aktor Indonesia jebolan The Raid untuk turut serta mengadu akting bersama aktor Hollywood lainnya.

Sebagai penonton yang bukan penggemar serial Star Wars, saya merasa cukup terhibur dengan karya yang disajikan oleh Abrams. Film berdurasi 135 menit ini ini banyak menyajikan lawakan-lawakan renyah yang pas di beberapa scenes. Lawakan ini merupakan bonus yang diberikan sang sutradara untuk membuat mata penonton tetap menatap layar.


Dari sisi cerita, film ini sangat mudah dipahami. Sebuah prolog tentang cerita terdahulu di awal film membantu penonton yang tidak mengikuti seri-seri terdahulunya untuk dapat memahami jalan ceritanya. Satu menit kemudian, penonton tidak perlu lagi memikirkan seperti apa jalan film sebelumnya karena film ini berdiri sendiri. Penonton tidak akan dibuat bingung oleh adegan-adegan yang disajikan oleh Abrams. Hal ini sangat berbeda jika Anda menyaksikan film keluaran Marvel di mana antara satu film saling berkaitan dengan film lain. Keterkaitan ini seperti kepingan-kepingan puzzle yang harus dirangkai oleh penonton untuk memahami cerita secara utuh.

Dari sisi sinematografi, film ini memiliki banyak sekali scenes yang bagus. Terlihat jelas bahwa sutradara menggarap film ini dengan sangat serius. Sayangnya, Anda tidak akan mendapatkan banyak pop-up scene jika ditonton dalam versi 3D. Tetapi hal itu tidak memengaruhi kualitas film.


Berbicara mengenai kemunculan 2 aktor besar Indonesia, hal ini justru membuat saya miris. Adegan yang didapatkan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian sangat sedikit. Bahkan jika scene tersebut dihilangkan, hal itu tidak akan berpengaruh besar pada jalannya cerita.

Berlanjut ke akhir cerita, menurut saya film ini ditutup dengan adegan yang anti klimaks dan terkesan menggantung. Setelah sutradara menyajikan pertempuran di luar angkasa yang sangat epic, akhir seperti itu seolah mengurangi kesan yang sudah di dapat penonton dari scene sebelumnya.


Secara keseluruhan, film ini menghibur dan layak untuk ditonton. Skor untuk film ini sebesar 8/ 10.

Thursday, December 10, 2015

THE WALK (2015)

Bagi orang yang memiliki rasa takut akan ketinggian, menyaksikan film berjudul The Walk merupakan sebuah tatangan. Film berdurasi 123 menit arahan Robert Zemeckis ini menyajikan beberapa atraksi gila Philippe Pelit (Joseph Gordon-Levitt) saat menjadi penampil jalanan di Perancis.

Philippe mulai jatuh cinta pada seni berjalan di atas tali saat dirinya menyaksikan aksi seorang bapak di sirkus yang belakangan diketahui bernama Papa Rudy (Ben Kingsley) yang kemudian mengajarkan Philippe banyak hal. Kecintaannya pada atraksi membuatnya terusir dari rumah. Philippe kemudian memulai atraksi jalanan pertamanya dan bertemu dengan seorang penyanyi jalanan bernama Annie (Charlotte Le Bon). Pertemuannya dengan Annie menjadi titik awal perjalanannya menuju New York.


Film biografi yang diangkat dari kisah nyata ini berjalan lambat namun dikemas dengan sangat menarik. Menggunakan gaya story-telling dan flashback membuat film ini terasa begitu nyata. Penonton seolah sedang mendengarkan penuturan seorang lelaki yang memiliki obsesi gila menyebrangi menara kembar WTC di New York dengan seutas tali.

Levitt tampil apik dengan aksen Perancis. Ia terlihat sangat medalami karakter Philippe Pelit dalam film ini. Gaya bicara, mimik wajah, dan gesture ditampilkan dengan sangat berbeda dari film-film terdahulunya. Dan yang membuat penasaran, apakah sebagian aksi juggling dan berdiri di atas tali benar-benar dilakukannya atau hanya efek CGI.


Meski film ini bertema biografi, ada beberapa unsur yang dimasukkan sutradara untuk membuat mata penonton tetap menatap layar. Beberapa unsur tersebut seperti aksi Levitt menjadi ‘mata-mata’ untuk mendapatkan informasi terkait gedung WTC.


Secara keseluruhan film ini dikemas dengan sangat menarik dan layak ditonton dengan skor 7,5/10. Selamat merasakan kengerian berdiri di atas menara kembar WTC, New York, AS.

Friday, November 6, 2015

SPECTRE (2015)

Film terbaru James Bond, Spectre, akhirnya tayang setelah penantian panjang selama 3 tahun. Film lanjutan Skyfall yang dirilis pada 6 November 2015 ini mengambil lokasi di beberapa negara seperti Meksiko, Inggris, Italia, dan negara di Afrika Utara. Sam Mendes selaku sutradara kembali menyajikan berbagai aksi menegangkan dalam rentang waktu 148 menit.

Di 15 menit awal film, penonton sudah bisa mendapatkan tensi yang tinggi dalam film Spectre. Sayangnya, setelah opening credits sempat terjadi anti klimaks namun tidak begitu lama. Mendes segera menaikkan kembali mood penonton melalui adegan kejar-kejaran menggunakan mobil mewah.


Jika dibandingkan dengan film sebelumnya, Spectre mengalami sedikit penurunan kualitas karena dalam film ini seolah menitikberatkan sisi drama. Hal serupa juga terjadi pada film Wolverine di mana X-Man terlibat drama percintaan dengan seorang wanita Jepang. Tentunya hal ini menjadi catatan bagi para pecinta film dengan genre action bahwa porsi percintaan yang berlebihan bisa menurunkan minat penonton untuk tetap fokus pada cerita.

Léa Seydoux yang memerankan tokoh Dr. Madeleine Swann pun terlihat biasa saja. Emosi yang ditampilkan tidak begitu berhasil mencuri perhatian penonton meskipun deskripsi yang diberikan oleh penulis naskah sudah cukup baik. Dr. Swann digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang sempat kecewa pada ayahnya yang berprofesi sebagai penjahat. Begitupun saat ia memutuskan untuk berpisah dari Bond, tidak ada ekspresi yang menyentuh hati penonton.


Untuk sinematografi, ada beberapa bagian yang terkesan seperti lompat. Harusnya dengan durasi yang cukup panjang, 148 menit, bisa dimanfaatkan untuk membuat rangkaian cerita yang lebih baik.

Selain beberapa hal di atas, seperti biasa, seri film James Bond akan selalu memanjakan mata penonton dengan pemandangan indah beberapa negara yang menjadi lokasi pengambilan gambar. Hal ini menjadi bonus bagi penonton, membuat mereka seolah ikut berkeliling dunia bersama Bond. Dan yang tidak kalah seru adalah kemunculan mobil-mobil mewah seperti Land Rover dan Jaguar selain Aston Martin tentunya.


Secara keseluruhan, film ini layak untuk ditonton. Dan skor untuk film ini 7.9/10.

Tuesday, October 13, 2015

THE MARTIAN (2015)

Tak bosan-bosannya industri perfilman Hollywood memproduksi film-film bertema jelajah luar angkasa. Kali ini Matt Damon didaulat menjadi tokoh utama dalam film The Martian. Film adaptasi novel ini digarap oleh sutradara kawakan, Sir Ridley Scott. Dengan durasi yang sangat panjang yaitu 141 menit, Scott mencoba untuk meraih simpati penontonnya lewat penderitaan yang dialami oleh Mark Watney (Matt Damon) yang tinggal seorang diri di planet Mars.

Dari sisi cerita, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Tetapi yang menjadi nilai plus adalah bagaimana sutradara mengolah cerita yang mampu menguras emosi penonton. Mark Watney yang awalnya bersemangat, lambat laun mulai merindukan kehidupan sosialnya. Kesepian yang menyebabkan Mark frustasi disajikan dengan sangat baik oleh Matt Damon.


Sedangkan untuk pemandangan luar angkasa, tidak terlalu banyak disajikan dalam film ini. Sebagian besar scene dihabiskan untuk memvisualisasikan keadaan planet Mars yang gersang dan cenderung mirip gurun pasir. Selain itu juga kantor pusat NASA yang sedang mengusahakan misi penyelamatan terhadap Mark.


Saat peluncuran roketpun kurang digarap dengan baik karena hanya menampilkan layar yang sedang menyiarkan proses peluncuran roket. Tidak ada gambar yang diambil dari jarak dekat untuk memanjakan mata penonton.

Catatan minus lain di film ini yaitu saat menampilkan tubuh Mark yang menjadi sangat kurus karena pasokan makanan yang menipis. Dari beberapa angle yang disajikan, terlihat bahwa itu bukanlah tubuh Matt Damon karena tidak ditampilkan secara utuh.

Tetapi secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan layak mendapatkan skor 7.9/10.

Friday, October 9, 2015

PAPER TOWNS (2015)

Paper Towns merupakan film bergenre drama, misteri, dan romans sebagaimana dimuat dalam situs IMDb. Namun setelah menyaksikan film berdurasi 109 menit ini, rasanya kurang pas jika film ini dilabeli misteri. Meskipun Margo (Cara Delevingne) menghilang dengan cara yang misterius dan meninggalkan beberapa petunjuk bagi Quentin (Nat Wolff), hal ini lebih terlihat sebagai permainan hide and seek.

Paper Towns sendiri berkisah tentang Quentin yang berusaha menemukan lokasi keberadaan Margo yang tiba-tiba menghilang. Bermodal beberapa catatan yang ditinggalkan Margo, Quentin yang didampingi beberapa sahabatnya melakukan sebuah perjalanan ke negara bagian New York.


Jake Schreier selaku sutradara menggarap film ini dengan cukup apik. Meskipun film ini terkesan datar, tetapi banyak nilai yang diselipkan dalam film ini. Beberapa di antaranya yaitu bagaimana seseorang harus berani keluar dari zona nyamannya untuk dapat menemukan jati dirinya. Selain itu, nilai persahabatan juga disajikan dengan begitu baik dari awal hingga akhir.

Dua kondisi persahabatan yang saling bertolak belakang dikemas menjadi konflik cerita. Margo yang dikhianati sahabatnya, dan Quentin yang justru sangat kompak melakukan berbagai hal bersama sahabatnya. Bahkan hingga kelulusan tiba, ketiga sahabat ini masih menyempatkan diri untuk mengadakan 'pesta perpisahan' sederhana.


Sementara itu, unsur romans di film ini tidak semenarik unsur persahabatannya. Entah karena sedikitnya porsi yang didapat Margo atau karena sang sutradara tidak berhasil menyajikan konflik batin yang memyentuh hati penontonnya.


Untuk karakter yang ada di film sendiri digarap cukup baik. Penonton dapat dengan mudah mengingat karakter Margo yang frontal, Quentin yang pasif, Ben yang gokil, serta Radar yang serius dan mudah panik.

Dan film ini ditutup dengan kisah yang jauh dari dugaan. Que dan Margo tidak menjadi sepasang kekasih. Skor untuk film ini 7.9/10. 

Friday, September 11, 2015

MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS (2015)

Sekuel film The Maze Runner tayang di Indonesia sepekan lebih awal dari jadwal rilis internasional. Ya, Jumat, 11 September 2015 jadi hari yang ditunggu-tunggu oleh penggemar novel dan juga film adaptasinya. Sekuelnya sendiri menggunakan judul yang sama dengan novelnya, Maze Runner: The Scorch Trials.

Dalam film keduanya ini, Thomas (Dylan O'Brien) bersama beberapa orang Gladers yang berhasil selamat dari labirin dievakuasi ke tempat bernama The Scorch. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang nyaman, kehidupan mereka justru semakin terancam di sana. Thomas dan yang lainnya berhasil melarikan diri dari kejaran WCKD.


Film berdurasi 131 menit ini terasa begitu singkat. Semakin banyak teka-teki yang belum terungkap membuat penonton semakin penasaran bagaimana film ketiganya nanti. Untuk scene pembukanya sendiri membuka sedikit identitas Thomas yang tidak dijelaskan di film pertamanya. Tetapi itu tidaklah menjawab semua teka-teki dalam film.

Dari sisi cerita, film keduanya ini lebih kompleks. Di film pertama, kehidupan para Gladers hanya berkutat pada bagaimana meloloskan diri dari labirin. Sedangkan dalam film kedua ini lebih banyak hal baru yang disugukan seperti kehidupan manusia yang terancam karena serangan virus 'zombie'. Belum lagi pengkhianatan dari orang terdekat Thomas di film ini semakin membuat penonton gemas.

Kehadiran beberapa karakter baru dalam film kedua ini juga menjadi angin segar. Karakter-karakter baru yang dimunculkan punya peran besar dalam membantu Thomas mengungkap misteri yang disembunyikan WCKD. Sebut saja Aris dan Brenda, dua karakter baru di The Scorch Trials ini cukup mencuri perhatian penonton.


Catatan minus di film ini yaitu kematian seorang dokter yang menurut saya merupakan juru kunci. Kalau karakter ini hidup, perjuangan Thomas akan lebih jelas dan terarah. Semoga saja film ketiganya nanti bisa menjawab semua misteri yang ada dalam trilogi Maze Runner.


Secara keseluruhan, film ini layak ditonton dan cukup menghibur. Skor untuk film ini 7.8/ 10.

Tuesday, June 2, 2015

Insidious: Chapter 3 (2015)

Setelah menunggu 2 tahun, akhirnya film ketiga dari film Insidious tayang di Indonesia. Jadwal ini 3 hari lebih cepat dibandingkan jadwal rilis internasional.

Pada film ketiga ini, Insidious tidak bercerita tentang keluarga Lambert yang mendapat teror hantu, melainkan mundur ke masa di mana Elise, sang cenayang, masih hidup. Meski di awal scene sudah ditulis, "kisah sebelum teror keluarga Lambert," tetapi masih saja ada penonton yang bingung. Contohnya orang yang duduk di sebelah saya yang berkomentar, "lho, bukannya dia (Elise) sudah mati?"

Oke, lanjut ke cerita dalam film, ya.

Film berdurasi 97 menit ini berjalan dengan sangat lambat. Jika dibandingkan dengan seri sebelumnya, film ini boleh dikatakan sedikit garing. Entah karena pergantian sutradara atau ada faktor lain yang membuat ceritanya monoton. Tetapi ciri khas seri sebelumnya tetap ada dalam film ini seperti adegan dibanting makhluk halus, lorong-lorong gelap, ataupun masuk ke dunia lain.


Film ini sendiri berkisah tentang seorang gadis yang ditinggal mati ibunya, ia mendatangi Elise agar bisa berdialog dengan ibunya. Alih-alih melepas kerinduan pada ibunya, ia justru mendapatkan malapetaka karena yang mendengar panggilannya justru hantu seorang lelaki yang mengenakan masker bantu pernafasan.


“You have to be very careful. If you call out to one of the dead, all of them can hear you,” pesan Elise.

Yang unik, film ini memiliki cita rasa Asia. Entah hanya perasaan saya atau memang sang penulis cerita terinspirasi pada hantu-hantu Asia seperti hantu Indonesia dan Jepang.


Untuk adegan-adegan yang membuat adrenalin terpacu pun menurut saya tidak digarap secara maksimal oleh sutradara. Ada banyak adegan 'tanggung' yang menurunkan tensi ketegangan penonton. Banyak adegan yang seharusnya bisa membuat penonton melompat kaget malah membuat penonton bersorak, "yaah.."


Ada satu scene pamungkas yang sangat mengena bagi saya, yaitu saat Elise merasa kalah dari hantu yang mengancam akan membunuhnya, Specs menyemangati Elise dengan kalimat, "kamu tidak boleh kalah dari hantu. Kamu masih hidup, kamu lebih kuat darinya."

Oke, sepertinya segitu dulu review yang bisa saya bagikan supaya nggak dicap spoiler. Dan untuk skor akhir, saya berikan 7.5/ 10.

Wednesday, February 11, 2015

THE BOY NEXT DOOR (2015)

Jennifer Lopez kembali meramaikan dunia perfilman tanah air. Dalam film The Boy Next Door, ia berperan sebagai Claire Peterson, seorang guru sastra di sebuah sekolah menengah.

Film yang bergenre thriller ini berkisah seputar kehidupan keluarga Claire yang berantakan karena sang suami, Garrett Peterson (John Corbett), berselingkuh dengan sekretarisnya. Claire yang tinggal bersama anak lelakinya, Kevin Peterson (Ian Nelson), mendadak kedatangan tamu seorang pemuda yang membantunya memperbaiki rolling-door garasi mereka. Pemuda tersebut adalah Noah Sandborn (Ryan Guzman), keponakan tetangga Claire yang baru saja pindah ke rumah sebelah karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kedekatan mereka berlanjut. Noah menjalin hubungan baik dengn Kevin. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua dalam memperbaiki mobil ataupun barang lain.


Suatu hari, Kevin pergi berkemah bersama ayahnya selama beberapa hari. Momen kesendirian Claire dimanfaatkan oleh Noah. Ia mencoba mendekatinya, merayu, hingga suatu malam Noah berhasil mengajak Claire berhubungan seks.


Malam yang disesali oleh Claire tersebut menjadi awal petaka baginya. Belakangan Noah menunjukkan sikap posesif yang sangat berlebihan dan menjadi sangat terobsesi. Ia terus meneror Claire dengan berbagai cara. Mulai dari ancaman berupa tulisan di toilet, "I fucked Claire Peterson", hingga disebarnya foto saat mereka berhubungan seks di kelas. Beruntung Claire berhasil membuang foto-foto tersebut sebelum murid-muridnya masuk.




Transformasi romatisme menjadi teror

Scene pertengahan perlahan bergerak dari drama keluarga menjadi potongan-potongan ketegangan. Rob Cohen selaku sutradara berhasil menyajikan film yang menghentak jantung penontonnya.


Cerita bergerak maju dengan sedikit flashback yang mengungkap fakta bahwa Noah adalah seorang psikopat. Penolakan Claire dan kecemburuan Noah terhadap Garrett membuatnya semakin tidak terkendali. Dan dari file-file yang ditemukan Claire di laptopnya, diketahui bahwa ia adalah dalang di balik kematian orangtuanya.

Di penghujung film, cerita mencapai klimaksnya dimana Noah membunuh kepala sekolah, Vicky Lansing (Kristin Chenoweth), dan membawa Claire ke gudang tempat ia menyekap suami dan anaknya. Dan di dalam gudang ini terjadi beberapa adegan yang membuat penonton bergidik, mulai dari baku tembak hingga penusukan mata Noah dengan suntikan.

Secara keseluruhan, film ini sangat memuaskan karena banyak menghadirkan kecemasan penonton. Skor 4/5.

Saturday, January 24, 2015

SEVENTH SON (2015)

Julianne Moore kembali beradu peran dengan Jeff Bridges dalam film Seventh Son. Namun dalam film ini keduanya digambarkan sebagai pasangan yang tidak mungkin bersatu karena latar belakang yang berbeda. Julianne Moore berperan sebagai Mother Malkin, pemyihir jahat yang berusaha membangkitkan dunia kegelapan sedangkan Jeff Bridges sebagai John Gregory, the Spook atau prajurit mistis yang bertugas menghancurkan para penyihir.

Film Seventh Son sendiri diadaptasi dari novel berjudul The Spook's Apprentice. Film yang berkisah tentang perjuangan Gregory melenyapkan kekuatan gelap yang dimiliki Mother Malkin. Dalam perjuangannya tersebut Gregory dibantu oleh seorang anak ketujuh yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Malkin. Anak tersebut adalah Tom Ward (Ben Barnes) yang merupakan keturunan dari seorang penyihir yang menentang rencana Malkin untuk mendirikan kerajaan kegelapan.


Gregory menjemput Tom di rumahnya yang terpencil dan mengajarinya cara untuk melawan Malkin.




Kisah klasik bernuansa romans

Di hari pertamanya, Tom bertemu dengan Alice (Alicia Vikander) yang sedang diarak warga di tengah pasar. Meski ia tahu bahwa Alice adalah penyihir, Tom justru membantunya dan membiarkan Alice pergi.


Ini merupakan awal mula di mana keduanya mulai saling menyukai. Asmara backstreet itu menjadi bumbu manis dalam perjalan Tom menuju kerajaan Mother Malkin.

Secara keseluruhan, film ini digarap dengan unik. Tokoh-tokoh sihir yang ditampilkan merepresentasikan binatang-binatang tertentu. Mengingat film ini diproduksi oleh Legendary Pictures yang juga memproduksi film-film seperti Godzilla, Batman, dll., ada kesan bahwa karakter penyihir yang disajikan mirip dengan monster-monster di film Godzilla. Untuk visual efek terbilang cukup baik. Dan skor untuk film ini 7.8/10.



Sunday, January 18, 2015

THE WOMAN IN BLACK (2012)

Daniel Radcliffe kembali menguji kemampuan beraktingnya dalam film The Woman In Black. Dalam film ini ia berperan sebagai Arthur Kipps, seorang pengacara muda miskin yang mendapat tugas untuk mengurus surat-surat penjualan rumah di daerah terpencil bernama Eel Marsh.

Arthur yang kehilangan istri saat anak mereka dilahirkan merasa berat menerima tugas tersebut. Alasannya ia tak ingin meninggalkan anak lelakinya, Joseph, yang baru berusia 4 tahun untuk tinggal dengan pengasuhnya. Akan tetapi ia tak memiliki pilihan karena jika ia menolak, atasannya mengancam akan memecatnya.

Ia pun akhirnya berangkat ke Eel Marsh. Setibanya di sana, ia disambut dingin penduduk sekitar. Ia bahkan nyaris tidak mendapatkan kamar hotel. Beruntung ia bertemu dengan Sam Daily (Ciarán Hinds), seorang tuan tanah lokal yang mau menampungnya di rumah mereka.


Setelah urusan selesai. Ia bukannya kembali ke rumahnya melainkan memutuskan menginap di Eel Marsh. Di situ ia menemukan surat-surat peninggalan Jennet Humfrye (Liz White) yang merupakan pemilik Eel Marsh. Teror Hantu Wanita Bergaun Hitam pun dimulai.




Alur cerita yang antiklimaks

Elisabeth Daily (Janet McTeer), istri Sam Daily yang mengalami depresi berat setelah kehilangan putra mereka dengan tragis. Putranya meninggal karena pengaruh kutukan Hantu Wanita Bergaun Hitam. Elisabeth sering kali bersikap aneh, menggambar wanita yang tewas gantung diri karena putranya diculik dan akhirnya meninggal karena tenggelam di rawa.


Suatu hari Elisabeth memeringati Arthur untuk berhati-hati karena sasaran berikutnya adalah Joseph. Arthur yang tidak ingin kutukan itu terjadi, berusaha menemukan jasad putra Jennet di rawa. Dengan bantuan Sam, Arthur berhasil menemukan jasad tersebut dan kemudian menguburkannya di makam Jennet.



Keberhasilan tersebut tak lantas menghilangkan kutukan tersebut. Saat mereka berada di stasiun, Hantu Wanita Bergaun Hitam kembali menampakkan diri dan membawa Joseph berjalan di rel. Arthur tidak menyadari hal itu karena ia sedang sibuk berbincang dengan Sam.

Saat mendengar suara kereta datang, Arthur mulai menyadari bahwa Joseph tidak lagi di sampingnya. Ia pun menyusul ke rel untuk menyelamatkan Joseph namun terlambat. Keduanya tewas tertabrak kereta dan arwahnya kemudian bertemu dengan istrinya. Mereka kembali menjadi keluarga yang utuh.


Jennet memandangi mereka dengan iri dan terisak. Hal itu membuatnya semakin dendam. Lantas bagaimana jalan cerita sequel film ini? Mari kita lihat The Woman In Black 2: Angel of Death!

Saturday, January 10, 2015

SAINT SEIYA: LEGEND OF SANCTUARY (2014)

Jepang kembali merilis film animasi manga Saint Seiya: Legend of Sanctuary yang sempat populer di tahun 90-an. Saya sendiri memang selalu menyaksikan film ini di layar kaca sekitar 20 tahun silam. Jadi, hadirnya film ini seolah mengembalikan kenangan masa kecil saya.

Film ini masih mengangkat cerita yang sama, yaitu perjuangan para Saint Perunggu melawan Gemini Saga yang berniat melenyapkan Saori yang merupakan titisan Dewi Athena. Bedanya, film ini dibuat dalam format tiga dimensi sehingga para tokoh lebih terlihat hidup dan nyaris serupa dengan manusia sungguhan.


Cerita di mulai dengan penemuan Saori oleh dua orang lelaki yang kemudian merawatnya hingga berumur 16 tahun. Saori yang belum menyadari siapa dirinya, dilindungi oleh lima orang Saint Perunggu. Mereka adalah Saint Seiya, seorang Saint yang berasal dari rasi bintang Pegasus.


Seiya sendiri merupakan pemimpin dari Saint Perunggu yang melindungi Saori. Empat orang Saint Perunggu lain yang turut menjaga Saori yaitu Saint Shiryu yang kekuatannya berasal dari Naga. Saint Hyoga, memiliki kekuatan rasi bintang Cygnus yang berbentuk angsa. Saint Shun, memiliki kekuatan dari rasi bintang Andromeda. Dan terakhir adalah Saint Ikki yang merupakan kakak dari Shun, kekuatan yang dimilikinya berasal dari rasi bintang Phoenix.


Setelah beberapa kali mendapat serangan dari utusan Gemini Saga, akhirnya Saori memutuskan untuk datang ke Sanctuary. Ia ingin mengungkap misteri kekuatan yang dimilikinya dan mencari tahu sebab mengapa ia menjadi incaran Gemini Saga.


Film animasi yang menghibur dengan pertempuran para Saint

Film ini sangat menghibur karena penggarapan yang dilakukan oleh sutradara Keiichi Sato sangatlah baik. Tidak hanya efek-efek pertarungan yang luar biasa, tetapi juga tampilan baju emas dan perunggu yang digunakan para Saint dikemas sedemikian rupa untuk menghidupkan masing-masing karakter.


Dengan durasi yang hanya 93 menit, film animasi ini terbilang singkat namun alur film bergerak maju dengan sedikit flashback di beberapa bagian menjadikan film ini jauh dari kesan 'membosankan'. Dan bagi mereka yang menjalani masa kanak-kanak di era 90-an, film ini tentu akan menjadi hiburan tersendiri yang mengingatkan mereka akan kenangan masa kecilnya. Skor untuk film animasi ini 4/5.