Showing posts with label movie review. Show all posts
Showing posts with label movie review. Show all posts

Thursday, March 24, 2016

BATMAN V SUPERMAN: DAWN OF JUSTICE (2016)

Penantian para fans DC Comics akhirnya terbayar sudah. Film ‘gabungan’ para heros pertama DC akhirnya muncul di layar bioskop Indonesia. Ini merupakan film kedua dari DC Extended Universe yang dirilis setelah Man of Steel pada tahun 2013 lalu.

Meskipun banyak yang mengatakan bahwa film Man of Steel kurang berhasil, hal itu tidak serta merta membuat fans DC menurunkan ekspektasi mereka pada film kedua Zack Snyder ini. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme penonton di hari pertama kemarin yang hampir memenuhi seluruh bioskop. Selain itu, bioskop-bioskop juga membuka lebih dari satu layar untuk film ini yang menandakan bahwa satu layar tidak cukup untuk menampung penonton yang ada. Lantas bagaimana penggarapan cerita di film berdurasi 151 menit ini?

Film Batman v Superman ini berkisah tentang keresahan Batman dan sebagian masyarakat akan kekuatan Superman yang diibaratkan seperti pisau bermata dua. Kekuatan ini bisa menjadi kebaikan sekaligus bencana bagi umat manusia. Keresahan itu ditunjukkan oleh Wayne (Ben Affleck) dengan cara menumpas pelaku kejahatan dengan meninggalkan jejak kelelawarnya.


Durasi yang sangat panjang terkesan kurang digarap dengan baik oleh sutradara, Snyder. Alur cerita yang disajikan pun boleh dibilang agak berantakan. Bahkan hal ini diungkapkan sendiri oleh para pemain di film tersebut saat Wonder Woman (Gal Gadot) muncul di tengah-tengah Batman dan Superman.


Ya, durasi yang panjang memang tidak menjamin alur cerita bakal tersampaikan dengan baik. Hal ini tentu saja dikarenakan ‘tradisi’ DC Comics yang lebih mementingkan unsur cerita daripada hal lain yang lebih menghibur.

Dari sisi peran, Ben Affleck berhasil menghidupkan kembali karakter Batman versi dirinya. Ia membuktikan bahwa sentimen negatif para fans Bale harus dijawab dengan langkah nyata. Lex Luthor (Jesse Eisenberg) tampil cukup memikat dengan gaya ‘orang gila’nya. Gal Gadot yang memerankan Wonder Woman tampak lihai saat bertarung namun biasa saja di beberapa kemunculannya sebagai Diane Prince. Karakter yang lebih menonjol dalam film justru Lois Lane (Amy Adams) yang menguras emosi penonton dengan memanfaatkan hubungan asmaranya dengan Superman (Henry Cavill).

Secara keseluhan, film ini cukup menghibur di setengah bagian terakhirnya karena mulai banyak pertarungan yang disajikan. Dan skor untuk film ini adalah 8/10. Skor mungkin bisa lebih baik jika sutradara menggarap bagian awal film dengan lebih baik. Akhir kata, selamat menonton!

Wednesday, February 10, 2016

DEADPOOL (2016)

Marvel dan DC Comic setiap tahun selalu mengeluarkan film-film bertema superhero yang diangkat dari komik mereka. Dan di awal tahun 2016, Marvel melalui 20th Century Fox telah menggebrak layar bioskop dengan film terbarunya berjudul Deadpool.

Sebagai film pembuka, nama besar Marvel dipertaruhkan di sini. Apalagi jika dilihat dari trailer film ini yang ditonton lebih dari 4 juta orang. Tentu banyak yang penasaran dengan aksi ‘gila’ Wade Wilson (Ryan Reynolds) dalam film besutan sutradara Tim Miller ini.


Film ini berkisah tentang seorang ‘tentara bayaran’ yang mengidap kanker. Di tengah keputusasaannya itu, Wilson bertemu dengan seorang perekrut yang menjanjikannya kesembuhan. Awalnya Wilson menolak, namun ia berubah pikiran dan mengambil tawaran perekrut tersebut. Dari sinilah ia mendapatkan kekuatannya yang sekaligus menimbulkan dendam terhadap mutan yang membuatnya menderita selama proses 'pengobatan' berlangsung.

Penyampaian cerita film ini terbilang sangat cerdas. Dengan menggunakan alur maju-mundur (flashback) yang dibuat secara acak namun saling terkait satu sama lain, memudahkan penonton untuk dapat menarik benang merah cerita. Penonton tidak diberikan kesempatan untuk berpikir kenapa bisa begitu?

Untuk isi cerita sendiri, boleh dibilang ini adalah film bertema superhero paling gokil yang pernah ada hingga saat ini. Berbagai lawakan kasar siap mengocok perut penonton. Tak heran pula jika film ini menjadi film pertama dari serial X-Men yang dilabeli Rated karena kata-kata umpatan bertebaran dari awal hingga akhir cerita. Selain unsur komedi yang sangat menghibur, film ini tidak kehilangan fokus utamanya sebagai film aksi. Berbagai adegan perkelahian tanpa senjata dapat disaksikan di film ini. Sebagai pelengkap, unsur drama juga dimasukkan sebagai ‘bumbu’ yang memperkaya cerita.

Film ini juga membawa penonton pada adegan-adegan yang tidak kalah mengerikan jika dibandingkan dengan film Final Destination 5. Selain itu, secara jelas terdapat pula adegan yang terinspirasi dari film 127 Hours, film yang bercerita tentang seorang pendaki gunung yang memotong tangannya yang terjepit bebatuan.


Setelah memaparkan kelebihan dari film Deadpool, kini saatnya saya membahas sedikit kekurangan pada film ini. Boleh dibilang ini adalah kesalahan dalam film yang entah disadari atau tidak oleh sutradara.

Dalam suatu adegan, Deadpool  menggunakan kedua pedangnya untuk melukai musuh. Awalnya saya berpikir, pasti akan ada kejanggalan setelah ini. Dan benar saja, pedang tersebut tiba-tiba sudah ada lagi di sarungnya yang terletak di bagian belakang Deadpool. Namun beberapa detik kemudian hilang lagi. Kejadian sepele yang hanya disadari oleh penonton yang memperhatikan setiap adegan secara detail.


Namun hal itu tidak memberi pengaruh jalannya cerita. Dan menurut saya, ini adalah film superhero paling menghibur hingga saat ini. Untuk skor, film ini layak mendapatkan angka 9/10.

Happy watching!

Thursday, December 10, 2015

THE WALK (2015)

Bagi orang yang memiliki rasa takut akan ketinggian, menyaksikan film berjudul The Walk merupakan sebuah tatangan. Film berdurasi 123 menit arahan Robert Zemeckis ini menyajikan beberapa atraksi gila Philippe Pelit (Joseph Gordon-Levitt) saat menjadi penampil jalanan di Perancis.

Philippe mulai jatuh cinta pada seni berjalan di atas tali saat dirinya menyaksikan aksi seorang bapak di sirkus yang belakangan diketahui bernama Papa Rudy (Ben Kingsley) yang kemudian mengajarkan Philippe banyak hal. Kecintaannya pada atraksi membuatnya terusir dari rumah. Philippe kemudian memulai atraksi jalanan pertamanya dan bertemu dengan seorang penyanyi jalanan bernama Annie (Charlotte Le Bon). Pertemuannya dengan Annie menjadi titik awal perjalanannya menuju New York.


Film biografi yang diangkat dari kisah nyata ini berjalan lambat namun dikemas dengan sangat menarik. Menggunakan gaya story-telling dan flashback membuat film ini terasa begitu nyata. Penonton seolah sedang mendengarkan penuturan seorang lelaki yang memiliki obsesi gila menyebrangi menara kembar WTC di New York dengan seutas tali.

Levitt tampil apik dengan aksen Perancis. Ia terlihat sangat medalami karakter Philippe Pelit dalam film ini. Gaya bicara, mimik wajah, dan gesture ditampilkan dengan sangat berbeda dari film-film terdahulunya. Dan yang membuat penasaran, apakah sebagian aksi juggling dan berdiri di atas tali benar-benar dilakukannya atau hanya efek CGI.


Meski film ini bertema biografi, ada beberapa unsur yang dimasukkan sutradara untuk membuat mata penonton tetap menatap layar. Beberapa unsur tersebut seperti aksi Levitt menjadi ‘mata-mata’ untuk mendapatkan informasi terkait gedung WTC.


Secara keseluruhan film ini dikemas dengan sangat menarik dan layak ditonton dengan skor 7,5/10. Selamat merasakan kengerian berdiri di atas menara kembar WTC, New York, AS.

Saturday, November 28, 2015

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY PART 2 (2015)

Petualangan Katniss Everdeen sebagai seorang Mockingjay akhirnya menemui titik akhir di film THG: Mockingjay Part 2 yang tayang perdana pada 20 November lalu. Film terakhir dari seri The Hunger Games ini lebih baik dibanding dengan bagian pertamanya. Di dalam film ini, adegan-adegan khas THG di seri terdahulunya cukup banyak bermunculan. Hal ini tentu menjadi alasan mengapa film terakhir ini layak ditonton oleh pecinta novelnya.

Film berdurasi 137 menit ini memiliki tempo agak lambat. Salah satu penyebabnya karena film ini dibuat menjadi dua bagian untuk kepentingan bisnis, meraup untung lebih besar. Sehingga terdapat beberapa scene yang dipaksakan dalam film ini.


Dalam film ini, Katniss bersama-sama pasukan gabungan dari setiap distrik bergerak untuk menyerang Capitol. Katniss begitu bersemangat untuk menghabisi nyawa Snow, sang Presiden. Sayangnya ia harus kehilangan sahabatnya satu persatu karena banyak terdapat ranjau di setiap jalan yang dilaluinya.

Untuk akting Jennifer Lawrence sudah tidak perlu diragukan lagi. Karakter Mockingjay yang memiliki pengaruh besar berhasil dihidupkan dengan baik olehnya. Karakter lain yang cukup mencuri perhatian di film ini adalah Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Peeta yang dicuci otaknya membuat penonton gemas. Di sinilah sutradara menghidupkan unsur drama dalam film ini.


Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dalam film ini sudah banyak aksi-aksi yang memompa adrenalin penonton meski belum bisa disetarakan dengan seri Catching Fire. Tensinya masih lompat-lompat dalam film ini yang terkadang membuat penonton kehilangan momentum.

Memasuki bagian akhir, film ini seolah berubah menjadi film drama seutuhnya. Berbagai kejadian mencekam yang dialami Katniss selama mengikuti games mematikan seolah sirna dalam 5 menit. Meski demikian, ending film ini tidaklah melenceng dari rangkaian kisah yang sudah ada di dalam film-film sebelumnya.


Overall, film ini layak ditonton karena cukup menghibur. Dan untuk skor akhir film ini adalah 7,8/10.

Tuesday, October 13, 2015

THE MARTIAN (2015)

Tak bosan-bosannya industri perfilman Hollywood memproduksi film-film bertema jelajah luar angkasa. Kali ini Matt Damon didaulat menjadi tokoh utama dalam film The Martian. Film adaptasi novel ini digarap oleh sutradara kawakan, Sir Ridley Scott. Dengan durasi yang sangat panjang yaitu 141 menit, Scott mencoba untuk meraih simpati penontonnya lewat penderitaan yang dialami oleh Mark Watney (Matt Damon) yang tinggal seorang diri di planet Mars.

Dari sisi cerita, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Tetapi yang menjadi nilai plus adalah bagaimana sutradara mengolah cerita yang mampu menguras emosi penonton. Mark Watney yang awalnya bersemangat, lambat laun mulai merindukan kehidupan sosialnya. Kesepian yang menyebabkan Mark frustasi disajikan dengan sangat baik oleh Matt Damon.


Sedangkan untuk pemandangan luar angkasa, tidak terlalu banyak disajikan dalam film ini. Sebagian besar scene dihabiskan untuk memvisualisasikan keadaan planet Mars yang gersang dan cenderung mirip gurun pasir. Selain itu juga kantor pusat NASA yang sedang mengusahakan misi penyelamatan terhadap Mark.


Saat peluncuran roketpun kurang digarap dengan baik karena hanya menampilkan layar yang sedang menyiarkan proses peluncuran roket. Tidak ada gambar yang diambil dari jarak dekat untuk memanjakan mata penonton.

Catatan minus lain di film ini yaitu saat menampilkan tubuh Mark yang menjadi sangat kurus karena pasokan makanan yang menipis. Dari beberapa angle yang disajikan, terlihat bahwa itu bukanlah tubuh Matt Damon karena tidak ditampilkan secara utuh.

Tetapi secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan layak mendapatkan skor 7.9/10.

Friday, September 11, 2015

MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS (2015)

Sekuel film The Maze Runner tayang di Indonesia sepekan lebih awal dari jadwal rilis internasional. Ya, Jumat, 11 September 2015 jadi hari yang ditunggu-tunggu oleh penggemar novel dan juga film adaptasinya. Sekuelnya sendiri menggunakan judul yang sama dengan novelnya, Maze Runner: The Scorch Trials.

Dalam film keduanya ini, Thomas (Dylan O'Brien) bersama beberapa orang Gladers yang berhasil selamat dari labirin dievakuasi ke tempat bernama The Scorch. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang nyaman, kehidupan mereka justru semakin terancam di sana. Thomas dan yang lainnya berhasil melarikan diri dari kejaran WCKD.


Film berdurasi 131 menit ini terasa begitu singkat. Semakin banyak teka-teki yang belum terungkap membuat penonton semakin penasaran bagaimana film ketiganya nanti. Untuk scene pembukanya sendiri membuka sedikit identitas Thomas yang tidak dijelaskan di film pertamanya. Tetapi itu tidaklah menjawab semua teka-teki dalam film.

Dari sisi cerita, film keduanya ini lebih kompleks. Di film pertama, kehidupan para Gladers hanya berkutat pada bagaimana meloloskan diri dari labirin. Sedangkan dalam film kedua ini lebih banyak hal baru yang disugukan seperti kehidupan manusia yang terancam karena serangan virus 'zombie'. Belum lagi pengkhianatan dari orang terdekat Thomas di film ini semakin membuat penonton gemas.

Kehadiran beberapa karakter baru dalam film kedua ini juga menjadi angin segar. Karakter-karakter baru yang dimunculkan punya peran besar dalam membantu Thomas mengungkap misteri yang disembunyikan WCKD. Sebut saja Aris dan Brenda, dua karakter baru di The Scorch Trials ini cukup mencuri perhatian penonton.


Catatan minus di film ini yaitu kematian seorang dokter yang menurut saya merupakan juru kunci. Kalau karakter ini hidup, perjuangan Thomas akan lebih jelas dan terarah. Semoga saja film ketiganya nanti bisa menjawab semua misteri yang ada dalam trilogi Maze Runner.


Secara keseluruhan, film ini layak ditonton dan cukup menghibur. Skor untuk film ini 7.8/ 10.

Friday, July 17, 2015

ANT-MAN (2015)

Sehari jelang lebaran, tepatnya Kamis, 16 Juli 2015, Marvel kembali merilis film terbarunya, Ant-Man. Film ini sendiri bercerita tentang Dr. Hank Pym (Michael Douglas) yang menciptakan pakaian khusus yang mampu mengubah ukuran tubuh pemakainya menjadi seukuran semut. Namun, dibalik menyusutnya ukuran tubuh, tenaga super justru dimiliki oleh seseorang yang mengenakan pakaian Manusia Semut.

Scott Lang (Paul Rudd), si maling yang merupakan sarjana teknik, menjadi satu-satunya kandidat yang dipilih oleh Dr. Pym untuk menjadi Ant-Man. Paul Rudd sendiri selain memerankan karakter Ant-Man juga merangkap sebagai penulis naskah dalam film ini.


Lantas bagaimana Marvel mengemas film ini? Keren dan kocak adalah jawaban yang tepat untuk menggambarkan film ini. Jika dua bulan lalu saya sempat kecewa dengan film Avengers: Age of Ultron, maka Ant-Man menjadi obat atas kekecewaan tersebut. Mengapa? Saya akan membandingkan storyline dua film ini. Avengers 2 mengusung tema film action adventure dengan menyelipkan kisah percintaan antara Hulk dan Black Widow yang terkesan dipaksakan. Sedangkan Ant-Man mengambil genre action dengan menyelipkan drama keluarga yang dikemas dalam porsi yang sangat pas. Drama keluarga tersebut berupa konflik batin ayah dan putrinya, baik Dr. Pym dan putrinya, Hope, maupun Scott dengan putrinya, Cassie.

Di film ini, Marvel juga menampilkan iklan produk minuman dengan sangat rapi. Munculnya sponsor dalam film sendiri terkesan sepele, tetapi jika penyajiannya tidak proporsional, akan mengganggu jalannya cerita. Dalam hal ini, kita bisa bandingkan dengan film Terminator: Genisys yang tayang bulan lalu. Di film Terminator: Genisys juga terdapat kemunculan sponsor yang sangat mengganggu. Produk tersebut tidak lain adalah sepatu ternama di mana sang aktor mengenakannya dengan sangat santai padahal ia sedang diburu musuh yang super canggih.


Film Ant-Man sendiri scene-nya sangat logis dan sesuai dengan isi cerita. Dan lagi-lagi pembandingnya adalah Terminator: Genisys. Dalam salah satu scene, Scott yang sudah menjadi Manusia Semut sempat melakukan perkelahian dengan salah satu anggota Avengers, dan saat ia melepas pakaian Manusia Semut, terdapat lebam di bagian muka. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan adegan dalam film Terminator: Genisys di mana Kyle Reese dan Sarah Connor sempat tertabrak mobil saat mereka muncul di tengah jalan. Tetapi mereka tidak mendapat cedera seperti patah tulang, hanya jahitan kecil di punggung.


Untuk efek CGI sendiri lebih baik dari film Avengers: Age of Ultron. Hampir setiap efek terlihat smooth dalam film ini. Dan untuk konten cerita favorit itu saat Scott berkomunikasi dengan semut. Ini di luar imajinasi! Manusia berkomunikasi dengan serangga dan memanfaatkan mereka sebagai senjata. Jadi, saya memberikan skor 8.5/10 untuk film ini.

Note:
Ada 2 bonus scene tambahan dalam film ini, yang pertama di tengah credits, yang kedua di akhir credits. Pastikan tetap menunggu sampai layar tidak menampilkan gambar apapun.

Thursday, June 11, 2015

Jurassic World (2015)

Jurassic World merupakan film ke-4 dari serial Jurassic Park karya Steven Spielberg. Meskipun begitu, kisah yang diangkat terbilang baru. Tema yang diangkat dalam film ini justru dititikberatkan pada kehidupan pribadi tokoh utama dengan setting tempat Taman Jurassic yang dikelolanya.

Tokoh utama tersebut adalah Claire (Bryce Dallas Howard) yang merupakan manajer operasional Taman Jurassic. Claire digambarkan sebagai wanita yang gila kerja. Ia tidak sempat memikirkan kehidupan pribadinya. Bahkan saat 2 keponakannya, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins), mengunjunginya di Taman Jurassic, Claire tidak sempat menemani mereka berkeliling.

Claire sempat menjalin hubungan dengan Owen (Chris Pratt), seorang pawang Raptor, namun hubungan merekapun tidak berjalan mulus. Karakter Claire yang idealis tidak bisa menerima Owen yang santai.


Drama tersebut kemudian 'dibumbui' oleh sutradara, Colin Trevorrow, dengan menghadirkan satu dinosaurus hybrid yang mengacaukan sistem keamanan Taman Jurassic. Lantas bagaimana dampaknya terhadap kehidupan Claire?

Film berdurasi 124 menit ini boleh dibilang bergenre perpaduan antara romans dan fiksi ilmiah. Romans didapat dari kisah percintaan Claire dan Owen, sedangkan fiksi ilmiah tentu saja dari rekayasa genetika dinosaurus yang dikembangkan di laboratorium Taman Jurassic.

Untuk visualisasi dinosaurus sendiri cukup baik kecuali untuk dinosaurus air yang disajikan dalam film sebagai makhluk mirip buaya. Efek pergerakan yang disajikan kurang luwes.


Dalam cerita sendiri banyak terselip pesan moral seperti perlakukanlah binatang dengan baik karena binatang tersebut juga memiliki perasaan dan kecintaan terhadap pekerjaan itu tidak boleh membuat seseorang melupakan sisi humannya seperti berkeluarga serta meluangkan waktu bersama orang terkasih.

Secara keseluruhan, skor untuk film ini tidaklah mengecewakan, 8/10.

Tuesday, June 2, 2015

Insidious: Chapter 3 (2015)

Setelah menunggu 2 tahun, akhirnya film ketiga dari film Insidious tayang di Indonesia. Jadwal ini 3 hari lebih cepat dibandingkan jadwal rilis internasional.

Pada film ketiga ini, Insidious tidak bercerita tentang keluarga Lambert yang mendapat teror hantu, melainkan mundur ke masa di mana Elise, sang cenayang, masih hidup. Meski di awal scene sudah ditulis, "kisah sebelum teror keluarga Lambert," tetapi masih saja ada penonton yang bingung. Contohnya orang yang duduk di sebelah saya yang berkomentar, "lho, bukannya dia (Elise) sudah mati?"

Oke, lanjut ke cerita dalam film, ya.

Film berdurasi 97 menit ini berjalan dengan sangat lambat. Jika dibandingkan dengan seri sebelumnya, film ini boleh dikatakan sedikit garing. Entah karena pergantian sutradara atau ada faktor lain yang membuat ceritanya monoton. Tetapi ciri khas seri sebelumnya tetap ada dalam film ini seperti adegan dibanting makhluk halus, lorong-lorong gelap, ataupun masuk ke dunia lain.


Film ini sendiri berkisah tentang seorang gadis yang ditinggal mati ibunya, ia mendatangi Elise agar bisa berdialog dengan ibunya. Alih-alih melepas kerinduan pada ibunya, ia justru mendapatkan malapetaka karena yang mendengar panggilannya justru hantu seorang lelaki yang mengenakan masker bantu pernafasan.


“You have to be very careful. If you call out to one of the dead, all of them can hear you,” pesan Elise.

Yang unik, film ini memiliki cita rasa Asia. Entah hanya perasaan saya atau memang sang penulis cerita terinspirasi pada hantu-hantu Asia seperti hantu Indonesia dan Jepang.


Untuk adegan-adegan yang membuat adrenalin terpacu pun menurut saya tidak digarap secara maksimal oleh sutradara. Ada banyak adegan 'tanggung' yang menurunkan tensi ketegangan penonton. Banyak adegan yang seharusnya bisa membuat penonton melompat kaget malah membuat penonton bersorak, "yaah.."


Ada satu scene pamungkas yang sangat mengena bagi saya, yaitu saat Elise merasa kalah dari hantu yang mengancam akan membunuhnya, Specs menyemangati Elise dengan kalimat, "kamu tidak boleh kalah dari hantu. Kamu masih hidup, kamu lebih kuat darinya."

Oke, sepertinya segitu dulu review yang bisa saya bagikan supaya nggak dicap spoiler. Dan untuk skor akhir, saya berikan 7.5/ 10.

Saturday, January 24, 2015

SEVENTH SON (2015)

Julianne Moore kembali beradu peran dengan Jeff Bridges dalam film Seventh Son. Namun dalam film ini keduanya digambarkan sebagai pasangan yang tidak mungkin bersatu karena latar belakang yang berbeda. Julianne Moore berperan sebagai Mother Malkin, pemyihir jahat yang berusaha membangkitkan dunia kegelapan sedangkan Jeff Bridges sebagai John Gregory, the Spook atau prajurit mistis yang bertugas menghancurkan para penyihir.

Film Seventh Son sendiri diadaptasi dari novel berjudul The Spook's Apprentice. Film yang berkisah tentang perjuangan Gregory melenyapkan kekuatan gelap yang dimiliki Mother Malkin. Dalam perjuangannya tersebut Gregory dibantu oleh seorang anak ketujuh yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Malkin. Anak tersebut adalah Tom Ward (Ben Barnes) yang merupakan keturunan dari seorang penyihir yang menentang rencana Malkin untuk mendirikan kerajaan kegelapan.


Gregory menjemput Tom di rumahnya yang terpencil dan mengajarinya cara untuk melawan Malkin.




Kisah klasik bernuansa romans

Di hari pertamanya, Tom bertemu dengan Alice (Alicia Vikander) yang sedang diarak warga di tengah pasar. Meski ia tahu bahwa Alice adalah penyihir, Tom justru membantunya dan membiarkan Alice pergi.


Ini merupakan awal mula di mana keduanya mulai saling menyukai. Asmara backstreet itu menjadi bumbu manis dalam perjalan Tom menuju kerajaan Mother Malkin.

Secara keseluruhan, film ini digarap dengan unik. Tokoh-tokoh sihir yang ditampilkan merepresentasikan binatang-binatang tertentu. Mengingat film ini diproduksi oleh Legendary Pictures yang juga memproduksi film-film seperti Godzilla, Batman, dll., ada kesan bahwa karakter penyihir yang disajikan mirip dengan monster-monster di film Godzilla. Untuk visual efek terbilang cukup baik. Dan skor untuk film ini 7.8/10.



Monday, January 19, 2015

TAKEN 3 (2015)

Liam Neeson kembali berperan sebagai Bryan Mills dalam seri terakhir film Taken. Dalam Taken 3 ini, Bryan dihadapkan pada kasus pembunuhan sang mantan istri, Lenny (Famke Janssen), yang jasadnya ditemukan di apartemen miliknya.

Ia pun terjebak dalam permainan yang dibuat sang pelaku. Polisi memasukkannya sebagai target pencarian orang. Namun ia berhasil mengungkap bukti-bukti bahwa ia bukanlah pelakunya. Bukti-bukti tersebut diunggah ke server polisi untuk menjelaskan bahwa dia bukanlah pelaku pembunuhan. Namun polisi tetap memburunya.



Memacu adrenalin sejak awal

Tak perlu menunggu lama untuk menyaksikan adegan khas serial Taken, kejar-kejaran dengan senjata di tangan dan upaya menghindar dari kepungan sekelompok orang baik penjahat maupun kepolisian. Dalam Taken 3 ini Bryan yang dituduh membunuh sang mantan istri berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi setelah memutuskan terjun ke saluran pembuangan.


Setelah aksi tersebut, penonton terus diajak untuk menyaksikan aksi-aksi handal Bryan dalam mengungkap dalang di balik pembunuhan sang mantan istri. Ia di bantu oleh rekannya di CIA, Sam (Leland Orser), berhasil menemukan bukti keterlibatan suami Lenny, Stuart (Dougray Scott).

Belakangan diketahui bahwa Stuart terlibat hutang yang cukup besar dengan pembunuh bayaran, Oleg Malankov (Sam Spruell). Ia merencanakan pembunuhan istrinya untuk mendapatkan uang asuransi guna membayar hutangnya.


Di akhir film, adegan penutup dibuat sangat menarik. Mobil Porsche hitam yang dikendarai Bryan mengejar pesawat pribadi yang digunakan Stuart untuk melarikan diri dengan membawa serta Kim Mills (Maggie Grace) sebagai sandera. Namun akhirnya ia berhasil menggagalkannya dengan menabrak roda pesawat tersebut.


Lantas bagaimana kelanjutan serial film yang dikatakan ini adalah film terakhir? Liam menjelaskan bahwa peluang untuk membuat Taken 4 mungkin saja terjadi jika penonton menyukai film ini. Syarat lainnya adalah naskah film Taken 4 harus menarik.

Secara keseluruhan, film ini digarap dengan sangat baik dan berhasil menyajikan aksi-aksi yang menegangkan. Skor 8/10.

Sunday, January 18, 2015

THE WOMAN IN BLACK (2012)

Daniel Radcliffe kembali menguji kemampuan beraktingnya dalam film The Woman In Black. Dalam film ini ia berperan sebagai Arthur Kipps, seorang pengacara muda miskin yang mendapat tugas untuk mengurus surat-surat penjualan rumah di daerah terpencil bernama Eel Marsh.

Arthur yang kehilangan istri saat anak mereka dilahirkan merasa berat menerima tugas tersebut. Alasannya ia tak ingin meninggalkan anak lelakinya, Joseph, yang baru berusia 4 tahun untuk tinggal dengan pengasuhnya. Akan tetapi ia tak memiliki pilihan karena jika ia menolak, atasannya mengancam akan memecatnya.

Ia pun akhirnya berangkat ke Eel Marsh. Setibanya di sana, ia disambut dingin penduduk sekitar. Ia bahkan nyaris tidak mendapatkan kamar hotel. Beruntung ia bertemu dengan Sam Daily (CiarĂ¡n Hinds), seorang tuan tanah lokal yang mau menampungnya di rumah mereka.


Setelah urusan selesai. Ia bukannya kembali ke rumahnya melainkan memutuskan menginap di Eel Marsh. Di situ ia menemukan surat-surat peninggalan Jennet Humfrye (Liz White) yang merupakan pemilik Eel Marsh. Teror Hantu Wanita Bergaun Hitam pun dimulai.




Alur cerita yang antiklimaks

Elisabeth Daily (Janet McTeer), istri Sam Daily yang mengalami depresi berat setelah kehilangan putra mereka dengan tragis. Putranya meninggal karena pengaruh kutukan Hantu Wanita Bergaun Hitam. Elisabeth sering kali bersikap aneh, menggambar wanita yang tewas gantung diri karena putranya diculik dan akhirnya meninggal karena tenggelam di rawa.


Suatu hari Elisabeth memeringati Arthur untuk berhati-hati karena sasaran berikutnya adalah Joseph. Arthur yang tidak ingin kutukan itu terjadi, berusaha menemukan jasad putra Jennet di rawa. Dengan bantuan Sam, Arthur berhasil menemukan jasad tersebut dan kemudian menguburkannya di makam Jennet.



Keberhasilan tersebut tak lantas menghilangkan kutukan tersebut. Saat mereka berada di stasiun, Hantu Wanita Bergaun Hitam kembali menampakkan diri dan membawa Joseph berjalan di rel. Arthur tidak menyadari hal itu karena ia sedang sibuk berbincang dengan Sam.

Saat mendengar suara kereta datang, Arthur mulai menyadari bahwa Joseph tidak lagi di sampingnya. Ia pun menyusul ke rel untuk menyelamatkan Joseph namun terlambat. Keduanya tewas tertabrak kereta dan arwahnya kemudian bertemu dengan istrinya. Mereka kembali menjadi keluarga yang utuh.


Jennet memandangi mereka dengan iri dan terisak. Hal itu membuatnya semakin dendam. Lantas bagaimana jalan cerita sequel film ini? Mari kita lihat The Woman In Black 2: Angel of Death!