Showing posts with label hollywood. Show all posts
Showing posts with label hollywood. Show all posts

Wednesday, February 10, 2016

DEADPOOL (2016)

Marvel dan DC Comic setiap tahun selalu mengeluarkan film-film bertema superhero yang diangkat dari komik mereka. Dan di awal tahun 2016, Marvel melalui 20th Century Fox telah menggebrak layar bioskop dengan film terbarunya berjudul Deadpool.

Sebagai film pembuka, nama besar Marvel dipertaruhkan di sini. Apalagi jika dilihat dari trailer film ini yang ditonton lebih dari 4 juta orang. Tentu banyak yang penasaran dengan aksi ‘gila’ Wade Wilson (Ryan Reynolds) dalam film besutan sutradara Tim Miller ini.


Film ini berkisah tentang seorang ‘tentara bayaran’ yang mengidap kanker. Di tengah keputusasaannya itu, Wilson bertemu dengan seorang perekrut yang menjanjikannya kesembuhan. Awalnya Wilson menolak, namun ia berubah pikiran dan mengambil tawaran perekrut tersebut. Dari sinilah ia mendapatkan kekuatannya yang sekaligus menimbulkan dendam terhadap mutan yang membuatnya menderita selama proses 'pengobatan' berlangsung.

Penyampaian cerita film ini terbilang sangat cerdas. Dengan menggunakan alur maju-mundur (flashback) yang dibuat secara acak namun saling terkait satu sama lain, memudahkan penonton untuk dapat menarik benang merah cerita. Penonton tidak diberikan kesempatan untuk berpikir kenapa bisa begitu?

Untuk isi cerita sendiri, boleh dibilang ini adalah film bertema superhero paling gokil yang pernah ada hingga saat ini. Berbagai lawakan kasar siap mengocok perut penonton. Tak heran pula jika film ini menjadi film pertama dari serial X-Men yang dilabeli Rated karena kata-kata umpatan bertebaran dari awal hingga akhir cerita. Selain unsur komedi yang sangat menghibur, film ini tidak kehilangan fokus utamanya sebagai film aksi. Berbagai adegan perkelahian tanpa senjata dapat disaksikan di film ini. Sebagai pelengkap, unsur drama juga dimasukkan sebagai ‘bumbu’ yang memperkaya cerita.

Film ini juga membawa penonton pada adegan-adegan yang tidak kalah mengerikan jika dibandingkan dengan film Final Destination 5. Selain itu, secara jelas terdapat pula adegan yang terinspirasi dari film 127 Hours, film yang bercerita tentang seorang pendaki gunung yang memotong tangannya yang terjepit bebatuan.


Setelah memaparkan kelebihan dari film Deadpool, kini saatnya saya membahas sedikit kekurangan pada film ini. Boleh dibilang ini adalah kesalahan dalam film yang entah disadari atau tidak oleh sutradara.

Dalam suatu adegan, Deadpool  menggunakan kedua pedangnya untuk melukai musuh. Awalnya saya berpikir, pasti akan ada kejanggalan setelah ini. Dan benar saja, pedang tersebut tiba-tiba sudah ada lagi di sarungnya yang terletak di bagian belakang Deadpool. Namun beberapa detik kemudian hilang lagi. Kejadian sepele yang hanya disadari oleh penonton yang memperhatikan setiap adegan secara detail.


Namun hal itu tidak memberi pengaruh jalannya cerita. Dan menurut saya, ini adalah film superhero paling menghibur hingga saat ini. Untuk skor, film ini layak mendapatkan angka 9/10.

Happy watching!

Saturday, November 28, 2015

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY PART 2 (2015)

Petualangan Katniss Everdeen sebagai seorang Mockingjay akhirnya menemui titik akhir di film THG: Mockingjay Part 2 yang tayang perdana pada 20 November lalu. Film terakhir dari seri The Hunger Games ini lebih baik dibanding dengan bagian pertamanya. Di dalam film ini, adegan-adegan khas THG di seri terdahulunya cukup banyak bermunculan. Hal ini tentu menjadi alasan mengapa film terakhir ini layak ditonton oleh pecinta novelnya.

Film berdurasi 137 menit ini memiliki tempo agak lambat. Salah satu penyebabnya karena film ini dibuat menjadi dua bagian untuk kepentingan bisnis, meraup untung lebih besar. Sehingga terdapat beberapa scene yang dipaksakan dalam film ini.


Dalam film ini, Katniss bersama-sama pasukan gabungan dari setiap distrik bergerak untuk menyerang Capitol. Katniss begitu bersemangat untuk menghabisi nyawa Snow, sang Presiden. Sayangnya ia harus kehilangan sahabatnya satu persatu karena banyak terdapat ranjau di setiap jalan yang dilaluinya.

Untuk akting Jennifer Lawrence sudah tidak perlu diragukan lagi. Karakter Mockingjay yang memiliki pengaruh besar berhasil dihidupkan dengan baik olehnya. Karakter lain yang cukup mencuri perhatian di film ini adalah Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Peeta yang dicuci otaknya membuat penonton gemas. Di sinilah sutradara menghidupkan unsur drama dalam film ini.


Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dalam film ini sudah banyak aksi-aksi yang memompa adrenalin penonton meski belum bisa disetarakan dengan seri Catching Fire. Tensinya masih lompat-lompat dalam film ini yang terkadang membuat penonton kehilangan momentum.

Memasuki bagian akhir, film ini seolah berubah menjadi film drama seutuhnya. Berbagai kejadian mencekam yang dialami Katniss selama mengikuti games mematikan seolah sirna dalam 5 menit. Meski demikian, ending film ini tidaklah melenceng dari rangkaian kisah yang sudah ada di dalam film-film sebelumnya.


Overall, film ini layak ditonton karena cukup menghibur. Dan untuk skor akhir film ini adalah 7,8/10.

Friday, September 11, 2015

MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS (2015)

Sekuel film The Maze Runner tayang di Indonesia sepekan lebih awal dari jadwal rilis internasional. Ya, Jumat, 11 September 2015 jadi hari yang ditunggu-tunggu oleh penggemar novel dan juga film adaptasinya. Sekuelnya sendiri menggunakan judul yang sama dengan novelnya, Maze Runner: The Scorch Trials.

Dalam film keduanya ini, Thomas (Dylan O'Brien) bersama beberapa orang Gladers yang berhasil selamat dari labirin dievakuasi ke tempat bernama The Scorch. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang nyaman, kehidupan mereka justru semakin terancam di sana. Thomas dan yang lainnya berhasil melarikan diri dari kejaran WCKD.


Film berdurasi 131 menit ini terasa begitu singkat. Semakin banyak teka-teki yang belum terungkap membuat penonton semakin penasaran bagaimana film ketiganya nanti. Untuk scene pembukanya sendiri membuka sedikit identitas Thomas yang tidak dijelaskan di film pertamanya. Tetapi itu tidaklah menjawab semua teka-teki dalam film.

Dari sisi cerita, film keduanya ini lebih kompleks. Di film pertama, kehidupan para Gladers hanya berkutat pada bagaimana meloloskan diri dari labirin. Sedangkan dalam film kedua ini lebih banyak hal baru yang disugukan seperti kehidupan manusia yang terancam karena serangan virus 'zombie'. Belum lagi pengkhianatan dari orang terdekat Thomas di film ini semakin membuat penonton gemas.

Kehadiran beberapa karakter baru dalam film kedua ini juga menjadi angin segar. Karakter-karakter baru yang dimunculkan punya peran besar dalam membantu Thomas mengungkap misteri yang disembunyikan WCKD. Sebut saja Aris dan Brenda, dua karakter baru di The Scorch Trials ini cukup mencuri perhatian penonton.


Catatan minus di film ini yaitu kematian seorang dokter yang menurut saya merupakan juru kunci. Kalau karakter ini hidup, perjuangan Thomas akan lebih jelas dan terarah. Semoga saja film ketiganya nanti bisa menjawab semua misteri yang ada dalam trilogi Maze Runner.


Secara keseluruhan, film ini layak ditonton dan cukup menghibur. Skor untuk film ini 7.8/ 10.

Friday, July 17, 2015

ANT-MAN (2015)

Sehari jelang lebaran, tepatnya Kamis, 16 Juli 2015, Marvel kembali merilis film terbarunya, Ant-Man. Film ini sendiri bercerita tentang Dr. Hank Pym (Michael Douglas) yang menciptakan pakaian khusus yang mampu mengubah ukuran tubuh pemakainya menjadi seukuran semut. Namun, dibalik menyusutnya ukuran tubuh, tenaga super justru dimiliki oleh seseorang yang mengenakan pakaian Manusia Semut.

Scott Lang (Paul Rudd), si maling yang merupakan sarjana teknik, menjadi satu-satunya kandidat yang dipilih oleh Dr. Pym untuk menjadi Ant-Man. Paul Rudd sendiri selain memerankan karakter Ant-Man juga merangkap sebagai penulis naskah dalam film ini.


Lantas bagaimana Marvel mengemas film ini? Keren dan kocak adalah jawaban yang tepat untuk menggambarkan film ini. Jika dua bulan lalu saya sempat kecewa dengan film Avengers: Age of Ultron, maka Ant-Man menjadi obat atas kekecewaan tersebut. Mengapa? Saya akan membandingkan storyline dua film ini. Avengers 2 mengusung tema film action adventure dengan menyelipkan kisah percintaan antara Hulk dan Black Widow yang terkesan dipaksakan. Sedangkan Ant-Man mengambil genre action dengan menyelipkan drama keluarga yang dikemas dalam porsi yang sangat pas. Drama keluarga tersebut berupa konflik batin ayah dan putrinya, baik Dr. Pym dan putrinya, Hope, maupun Scott dengan putrinya, Cassie.

Di film ini, Marvel juga menampilkan iklan produk minuman dengan sangat rapi. Munculnya sponsor dalam film sendiri terkesan sepele, tetapi jika penyajiannya tidak proporsional, akan mengganggu jalannya cerita. Dalam hal ini, kita bisa bandingkan dengan film Terminator: Genisys yang tayang bulan lalu. Di film Terminator: Genisys juga terdapat kemunculan sponsor yang sangat mengganggu. Produk tersebut tidak lain adalah sepatu ternama di mana sang aktor mengenakannya dengan sangat santai padahal ia sedang diburu musuh yang super canggih.


Film Ant-Man sendiri scene-nya sangat logis dan sesuai dengan isi cerita. Dan lagi-lagi pembandingnya adalah Terminator: Genisys. Dalam salah satu scene, Scott yang sudah menjadi Manusia Semut sempat melakukan perkelahian dengan salah satu anggota Avengers, dan saat ia melepas pakaian Manusia Semut, terdapat lebam di bagian muka. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan adegan dalam film Terminator: Genisys di mana Kyle Reese dan Sarah Connor sempat tertabrak mobil saat mereka muncul di tengah jalan. Tetapi mereka tidak mendapat cedera seperti patah tulang, hanya jahitan kecil di punggung.


Untuk efek CGI sendiri lebih baik dari film Avengers: Age of Ultron. Hampir setiap efek terlihat smooth dalam film ini. Dan untuk konten cerita favorit itu saat Scott berkomunikasi dengan semut. Ini di luar imajinasi! Manusia berkomunikasi dengan serangga dan memanfaatkan mereka sebagai senjata. Jadi, saya memberikan skor 8.5/10 untuk film ini.

Note:
Ada 2 bonus scene tambahan dalam film ini, yang pertama di tengah credits, yang kedua di akhir credits. Pastikan tetap menunggu sampai layar tidak menampilkan gambar apapun.

Thursday, June 11, 2015

Jurassic World (2015)

Jurassic World merupakan film ke-4 dari serial Jurassic Park karya Steven Spielberg. Meskipun begitu, kisah yang diangkat terbilang baru. Tema yang diangkat dalam film ini justru dititikberatkan pada kehidupan pribadi tokoh utama dengan setting tempat Taman Jurassic yang dikelolanya.

Tokoh utama tersebut adalah Claire (Bryce Dallas Howard) yang merupakan manajer operasional Taman Jurassic. Claire digambarkan sebagai wanita yang gila kerja. Ia tidak sempat memikirkan kehidupan pribadinya. Bahkan saat 2 keponakannya, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins), mengunjunginya di Taman Jurassic, Claire tidak sempat menemani mereka berkeliling.

Claire sempat menjalin hubungan dengan Owen (Chris Pratt), seorang pawang Raptor, namun hubungan merekapun tidak berjalan mulus. Karakter Claire yang idealis tidak bisa menerima Owen yang santai.


Drama tersebut kemudian 'dibumbui' oleh sutradara, Colin Trevorrow, dengan menghadirkan satu dinosaurus hybrid yang mengacaukan sistem keamanan Taman Jurassic. Lantas bagaimana dampaknya terhadap kehidupan Claire?

Film berdurasi 124 menit ini boleh dibilang bergenre perpaduan antara romans dan fiksi ilmiah. Romans didapat dari kisah percintaan Claire dan Owen, sedangkan fiksi ilmiah tentu saja dari rekayasa genetika dinosaurus yang dikembangkan di laboratorium Taman Jurassic.

Untuk visualisasi dinosaurus sendiri cukup baik kecuali untuk dinosaurus air yang disajikan dalam film sebagai makhluk mirip buaya. Efek pergerakan yang disajikan kurang luwes.


Dalam cerita sendiri banyak terselip pesan moral seperti perlakukanlah binatang dengan baik karena binatang tersebut juga memiliki perasaan dan kecintaan terhadap pekerjaan itu tidak boleh membuat seseorang melupakan sisi humannya seperti berkeluarga serta meluangkan waktu bersama orang terkasih.

Secara keseluruhan, skor untuk film ini tidaklah mengecewakan, 8/10.

Tuesday, June 2, 2015

Insidious: Chapter 3 (2015)

Setelah menunggu 2 tahun, akhirnya film ketiga dari film Insidious tayang di Indonesia. Jadwal ini 3 hari lebih cepat dibandingkan jadwal rilis internasional.

Pada film ketiga ini, Insidious tidak bercerita tentang keluarga Lambert yang mendapat teror hantu, melainkan mundur ke masa di mana Elise, sang cenayang, masih hidup. Meski di awal scene sudah ditulis, "kisah sebelum teror keluarga Lambert," tetapi masih saja ada penonton yang bingung. Contohnya orang yang duduk di sebelah saya yang berkomentar, "lho, bukannya dia (Elise) sudah mati?"

Oke, lanjut ke cerita dalam film, ya.

Film berdurasi 97 menit ini berjalan dengan sangat lambat. Jika dibandingkan dengan seri sebelumnya, film ini boleh dikatakan sedikit garing. Entah karena pergantian sutradara atau ada faktor lain yang membuat ceritanya monoton. Tetapi ciri khas seri sebelumnya tetap ada dalam film ini seperti adegan dibanting makhluk halus, lorong-lorong gelap, ataupun masuk ke dunia lain.


Film ini sendiri berkisah tentang seorang gadis yang ditinggal mati ibunya, ia mendatangi Elise agar bisa berdialog dengan ibunya. Alih-alih melepas kerinduan pada ibunya, ia justru mendapatkan malapetaka karena yang mendengar panggilannya justru hantu seorang lelaki yang mengenakan masker bantu pernafasan.


“You have to be very careful. If you call out to one of the dead, all of them can hear you,” pesan Elise.

Yang unik, film ini memiliki cita rasa Asia. Entah hanya perasaan saya atau memang sang penulis cerita terinspirasi pada hantu-hantu Asia seperti hantu Indonesia dan Jepang.


Untuk adegan-adegan yang membuat adrenalin terpacu pun menurut saya tidak digarap secara maksimal oleh sutradara. Ada banyak adegan 'tanggung' yang menurunkan tensi ketegangan penonton. Banyak adegan yang seharusnya bisa membuat penonton melompat kaget malah membuat penonton bersorak, "yaah.."


Ada satu scene pamungkas yang sangat mengena bagi saya, yaitu saat Elise merasa kalah dari hantu yang mengancam akan membunuhnya, Specs menyemangati Elise dengan kalimat, "kamu tidak boleh kalah dari hantu. Kamu masih hidup, kamu lebih kuat darinya."

Oke, sepertinya segitu dulu review yang bisa saya bagikan supaya nggak dicap spoiler. Dan untuk skor akhir, saya berikan 7.5/ 10.

Sunday, April 26, 2015

Avengers: Age of Ultron (2015)

Well, saatnya memberikan review film The Avengers: Age of Ultron.

Setelah menunggu lebih dari 3 jam, akhirnya bisa masuk ke dalam studio di kursi sisa untuk show pukul 22.00 WIB semalam. Ekspektasi yang dibangun sudah sangat besar mengingat proses booking tiket nggak kalah susahnya seperti saat mau nonton Furious 7.

Tapi ada yang berbeda, saat keluar studio setelah menyaksikan Furious 7, perasaan mendadak melow, melted, atau apalah istilah tepatnya karena benar-benar terbawa suasana. Nah, saat keluar studio semalam, ekspresi saya justru malah mengernyitkan dahi, bingung.

Ceritanya fokus di mana? Terlalu banyak karakter, terlalu banyak kisah, tapi minim pengembangan. Sampai saat ini, saya masih belum bisa mengingat dengan baik semua adegan itu.

Sesuai judulnya, Avengers 2 ini ingin menggali karakter Ultron karena ia adalah ancaman terbesar bagi tim penjaga perdamaian dan juga bagi bumi. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil dielaborasi dengan baik oleh sutradara. Siapa Ultron? Mengapa ia menjadi jahat? Mengapa ia ingin menghabisi Tim Avengers? Mengapa begini mengapa begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali.


Lebih miris lagi, karakter Ultron dimatikan secara tidak langsung melalui kemunculan karakter J.A.R.V.I.S in Vision. Ibaratnya, musuh belum datang sudah ada deklarasi kemenangan.


Satu-satunya karakter yang ngena banged itu si kembar, Scarlet Witch dan Quicksilver. Dalam sekuel ini karakter mereka yang unik cukup memorable. Tapi sayangnya asal-usul mereka nggak digali secara mendalam. Kemampuan mereka yang sederhana itu justru membuat mereka mudah diingat.


Terlepas dari itu semua, saya tetap suka adegan buummm, booommmm, baaaammmm. Meskipun porsinya agak berlebihan, tapi tetap oke.

Satu hal lagi, sepertinya bakal ada pergantian personil Tim Avengers di film lanjutannya. Dan seperti biasa, ada bonus di pertengahan credit title. Sayangnya bonus itu cuma berdurasi 3 detik yang justru membuat saya makin bingung seperti apa film ketiganya.

Akhirnya, saya hanya bisa memberikan skor 3.75/5 untuk film ini.

Thursday, April 2, 2015

Fast and Furious 7 (2015)

Furious 7, film yang sudah dinantikan banyak penggemar itu akhirnya tayang juga setelah sempat molor setahun karena sang aktor utama, Paul Walker, tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan kalau biasanya saya memberikan rating untuk sebuah film di akhir ulasan, khusus untuk Furious 7 akan saya berikan di awal.

Untuk film yang mengusung tema 'One Last Ride' ini saya berani memberikan nilai 9.5/10. Terlihat berlebihan memang. Ini bukan semata karena fanatisme terhadap seri film ini, melainkan konten yang disajikan dalam film ini sangatlah keren menurut saya.

You'll get some surprises. Kejutan-kejutan itu yang saya sebut sebagai sesuatu yang keren. Penasaran kejutan apa saja yang ada dalam film ini? Yuk kita bedah!


They brought Paul back into movie

Saat saya membuat sebuah posting di forum komunitas, ada yang bertanya tentang nasib scene yang terdapat Paul Walker di dalamnya. Dan jawabannya sudah saya dapatkan saat menyaksikan adegan-adegan di mana Paul ambil bagian di dalamnya. And it's freaking amazing.

Kabarnya, dibutuhkan dana Rp 2,8 triliun untuk menghidupkan Paul. Menurut sumber yang dilansir Aceshowbiz, guna menghadirkan Paul, Universal Pictures menggunakan jasa tiga orang sekaligus. Mereka adalah saudara kandung Paul, Caleb Walker dan Cody Walker, serta seorang lainnya yang belum disebutkan identitasnya. Caleb dipasang karena memiliki ukuran tubuh dan gesture mirip Paul. Sementara, Cody memiliki kemiripan dengan Paul di bagian mata. Seorang aktor lainnya diterjunkan untuk mengerjakan bagian akting. (Metrotvnews.com)



Jika kematian Paul tak tersebar luas ke seantero negeri, bisa saya pastikan bahwa penonton tidak akan pernah tahu kalau Paul Walker dalam film tersebut adalah hasil dari rekayasa teknologi.



Ramsey, the new character that cannot drive

Biasanya, setiap kali Toretto merekrut orang dalam timnya, bisa dipastikan mereka adalah pembalap handal. Namun apa jadinya jika ada seorang peretas yang masuk dalam tim dan tidak bisa balapan?

Ya, ini adalah kejutan kecil yang menyenangkan. Karakter seorang peretas wanita yang berpenampilan sederhana, dan tentu saja tidak biasa kebut-kebutan di jalan, menjadi daya tarik dalam Furious 7. Di balik penampilan biasanya itu, dia adalah sosok penting yang menciptakan sebuah teknologi super canggih yang mampu memata-matai seluruh aktivitas dunia. Parahnya, kehadirannya justru mempersulit tim karena harus oper-operan manusia dari satu mobil ke mobil lain untuk menghindari kejaran tentara bayaran yang super kejam.


Keputusan memasukkan karakter baru yang anti-mainstream ini menurut saya sangatlah brilliant! Ramsey bagaikan minuman segar di saat dahaga. Ia menjadi nilai plus dalam film ini. Bayangkan saja, dari tema balapan liar tiba-tiba dikombinasikan dengan hal yang berbau teknologi digital seperti peretas.


They gave a happy ending in exchange for sadness!

A little surprise before the movie ends. Kejutan terakhir yang diberikan oleh James Wan selaku sutradara adalah salam perpisahan bagi Paul Walker. Tetapi seperti yang dikatakan Toretto, "Tidak akan pernah ada kata perpisahan karena di manapun kau berada, we're still brother!"

Menurut saya, scene penutup ini sengaja diciptakan sebagai bagian dari penghormatan terakhir mereka terhadap mendiang Paul Walker yang sudah banyak memberikan kontribusi dalam serial Fast and Furious.

Sekali lagi, karena faktor-faktor di ataslah saya berani memberikan nilai sangat tinggi untuk film ini selain (tentu saja) adegan-adegan khas seperti adu jotos dan balapan mobil.

Saturday, March 28, 2015

AMERICAN SNIPER (2015)

Film yang diangkat dari kisah seorang prajurit AS jebolan Irak ini mendapat sambutan positif dari penonton, khususnya dari negara asal film ini.

Film ini dimulai dengan adegan pembuka di mana seorang prajurit AS, Chris Kyle (Bradley Cooper), tengah mengintai dari atap rumah warga sipil untuk mengamankan perjalanan tentara AS dari serangan gerilyawan Irak. Namun adegan berikutnya mundur ke masa kecil Chris Kyle. Dalam scene ini ditampilkan bagaimana Kyle diajarkan menembak dan berburu rusa oleh ayahnya.

Saat dewasa, Kyle tertarik untuk masuk dalam U.S. Navy SEAL. Berbagai ujian fisik dijalaninya selama masa-masa awal keikutsertaannya. Hingga akhirnya kemampuannya menembak menghantarkannya menjadi tim penembak jitu.

Suatu hari, Kyle bertemu dengan Taya (Sienna Miller) di sebuah bar. Hubungan mereka semakin erat dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Saat perayaan pesta pernikahan itu Kyle mengetahui bahwa dirinya ditugaskan ke Irak.



Perang Menyisakan Trauma

Saat bertugas di Irak, korban pertama yang harus ditembak adalah seorang ibu dan anak yang berusaha mengebom tentara AS yang sedang berpatroli dengan granat. Ia kemudian menjadi legenda karena kemampuannya menghabisi setiap musuh yang hendak menyerang iring-iringan tentara.

Sayangnya, hati kecilnya menolak untuk membunuh anak-anak yang bersenjata. Beban itu kemudian dibawanya hingga ke kehidupan rumah tangganya. Kyle berubah menjadi pendiam dan mudah terbawa suasana. Hingga akhirnya ia berkonsultasi pada seorang psikolog untuk menghilangkan traumanya.

Film ini memberi gambaran bahwa perang hanya menghadirkan trauma baik terhadap petugas maupun masyarakat sipil. Film ini juga meningkatkan sentimen negatif masyarakat AS terhadap komunitas muslim di negara tersebut.

Monday, January 19, 2015

TAKEN 3 (2015)

Liam Neeson kembali berperan sebagai Bryan Mills dalam seri terakhir film Taken. Dalam Taken 3 ini, Bryan dihadapkan pada kasus pembunuhan sang mantan istri, Lenny (Famke Janssen), yang jasadnya ditemukan di apartemen miliknya.

Ia pun terjebak dalam permainan yang dibuat sang pelaku. Polisi memasukkannya sebagai target pencarian orang. Namun ia berhasil mengungkap bukti-bukti bahwa ia bukanlah pelakunya. Bukti-bukti tersebut diunggah ke server polisi untuk menjelaskan bahwa dia bukanlah pelaku pembunuhan. Namun polisi tetap memburunya.



Memacu adrenalin sejak awal

Tak perlu menunggu lama untuk menyaksikan adegan khas serial Taken, kejar-kejaran dengan senjata di tangan dan upaya menghindar dari kepungan sekelompok orang baik penjahat maupun kepolisian. Dalam Taken 3 ini Bryan yang dituduh membunuh sang mantan istri berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi setelah memutuskan terjun ke saluran pembuangan.


Setelah aksi tersebut, penonton terus diajak untuk menyaksikan aksi-aksi handal Bryan dalam mengungkap dalang di balik pembunuhan sang mantan istri. Ia di bantu oleh rekannya di CIA, Sam (Leland Orser), berhasil menemukan bukti keterlibatan suami Lenny, Stuart (Dougray Scott).

Belakangan diketahui bahwa Stuart terlibat hutang yang cukup besar dengan pembunuh bayaran, Oleg Malankov (Sam Spruell). Ia merencanakan pembunuhan istrinya untuk mendapatkan uang asuransi guna membayar hutangnya.


Di akhir film, adegan penutup dibuat sangat menarik. Mobil Porsche hitam yang dikendarai Bryan mengejar pesawat pribadi yang digunakan Stuart untuk melarikan diri dengan membawa serta Kim Mills (Maggie Grace) sebagai sandera. Namun akhirnya ia berhasil menggagalkannya dengan menabrak roda pesawat tersebut.


Lantas bagaimana kelanjutan serial film yang dikatakan ini adalah film terakhir? Liam menjelaskan bahwa peluang untuk membuat Taken 4 mungkin saja terjadi jika penonton menyukai film ini. Syarat lainnya adalah naskah film Taken 4 harus menarik.

Secara keseluruhan, film ini digarap dengan sangat baik dan berhasil menyajikan aksi-aksi yang menegangkan. Skor 8/10.

Saturday, December 20, 2014

BOYHOOD (2014): 12 YEARS EPIC MOVIE

Siapa yang tak kenal Richard Linklater? Sutradara kenamaan Hollywood ini terkenal  dengan film-film yang dibuat dengan durasi waktu yang tidak sebentar, sebut saja trilogi Before yang diproduksi tiap 9 tahun.

Dalam film terbarunya berjudul BOYHOOD, Linklater memecahkan rekor pribadinya dengan memproduksi film yang menghabiskan waktu 12 tahun dalam proses pembuatannya. Film yang mengangkat tema tentang kehidupan seorang anak berumur 6 tahun bersama keluarganya ini sangatlah menarik. Betapa tidak, tokoh-tokoh dalam film ini adalah satu individu yang sama mulai dari kecil hingga dewasa. Jika di kebanyakan film Hollywood lain banyak kita jumpai daftar pemeran dengan label 'kecil' dan 'dewasa' untuk satu tokoh, maka hal itu tidak akan kita jumpai di sini.

Mason (Ellar Coltrane) adalah seorang anak lelaki berumur 6 tahun yang gemar menonton film dan bermain game. Ia tinggal bersama ibunya, Olivia (Patricia Arquette), dan kakak perempuannya, Samantha (Lorelei Linklater). Dalam kehidupan keluarganya, Mason harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tidak memiliki hubungan yang harmonis dan memutuskan untuk berpisah. Olivia kemudian membawa keduanya ke Houston.


Dari sinilah perjalanan tumbuh kembang Mason dan Samantha dimulai. Linklater 'mendokumentasikan' fase demi fase perkembangan mereka dengan sangat apik, halus dan terlihat sangat natural. Konflik-konflik yang disajikan pun sesuai porsinya. Mulai dari kehidupan Olivia yang berperan sebagai single-mother dan akhirnya memutuskan menikah dengan seorang profesor di kampusnya.

Mason dan Samantha menghabiskan waktu beberapa tahun bersama ayah tiri mereka. Konflik antara ayah tiri dan anak tiri seolah menjadi momok yang menghantui kehidupan Mason. Hingga suatu hari, pertengkaran hebat tak terelakan. Olivia memutuskan bercerai dan membawa kedua anaknya.



It's a little bit like timelapse photography of a human being --Hawke


Kegagalan kedua Olivia dalam membina rumah tangga, membuat hubungan Mason, Samantha dan ayah kandungnya (Ethan Hawke) semakin erat. Saat keduanya tumbuh menjadi remaja, ayahnya memberikan nasihat tentang hubungan seks bagi remaja. Pentingnya alat kontrasepsi dalam hubungan pra-nikah.



Hal ini memberikan gambaran bagaimana orangtua di barat sangat terbuka dalam urusan seks. Lingkungan juga sangat memengaruhi perkembangan remaja di dunia barat. Contoh yang diangkat Linklater adalah saat Mason memutuskan berkemah bersama beberapa teman dan seniornya. Dalam dialog-dialog di scene tersebut dijelaskan bahwa seks dan alkohol adalah lifestyle bagi remaja. Hidup tanpa seks dan alkohol membuat mereka dikucilkan atau bahkan dituding sebagai penyuka sesama jenis.



The real assessor of life

Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, Mason memiliki ketidakstabilan emosi. Ia adalah seorang anak berbakat yang mencintai dunia fotografi. Ia sering menghabiskan waktunya di ruang praktek tetapi melalaikan tugas-tugas sekolah.


Hal ini membuat gurunya prihatin. Guru fotografi ini pun menasihati Mason agar lebih giat dalam hal pendidikan. Banyak orang berbakat yang kalah bersaing karena mereka tidak memiliki semangat untuk maju. Dunia kerja sangat kompetitif, jika ia tak bekerja keras, maka ia akan tersisih dalam setiap persaingan.

Hal ini tak lepas dari pengalaman buruk yang dirasakan Mason. Di mana ibunya adalah seorang berpendidikan dan menjadi dosen di universitas. Tetapi kenyataannya, ibunya tidak memiliki kehidupan rumah tangga yang baik.

Secara keseluruhan, film ini sangat kaya pesan moral dan memberikan motivasi bagi setiap orang. Film ini layak mendapatkan nilai 9.5/10.