Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Wednesday, January 6, 2016

STAR WARS: THE FORCE AWAKENS (2015)

Pertengahan Desember lalu pecinta film Indonesia dan penggemar Star Wars pada khususnya dimanjakan dengan kemunculan film ketujuh dari serial Star Wars. Film yang disutradarai oleh J. J. Abrams ini sukses menyedot perhatian penonton. Dan dalam film berjudul Star Wars: The Force Awakens ini, Abrams menggaet 2 aktor Indonesia jebolan The Raid untuk turut serta mengadu akting bersama aktor Hollywood lainnya.

Sebagai penonton yang bukan penggemar serial Star Wars, saya merasa cukup terhibur dengan karya yang disajikan oleh Abrams. Film berdurasi 135 menit ini ini banyak menyajikan lawakan-lawakan renyah yang pas di beberapa scenes. Lawakan ini merupakan bonus yang diberikan sang sutradara untuk membuat mata penonton tetap menatap layar.


Dari sisi cerita, film ini sangat mudah dipahami. Sebuah prolog tentang cerita terdahulu di awal film membantu penonton yang tidak mengikuti seri-seri terdahulunya untuk dapat memahami jalan ceritanya. Satu menit kemudian, penonton tidak perlu lagi memikirkan seperti apa jalan film sebelumnya karena film ini berdiri sendiri. Penonton tidak akan dibuat bingung oleh adegan-adegan yang disajikan oleh Abrams. Hal ini sangat berbeda jika Anda menyaksikan film keluaran Marvel di mana antara satu film saling berkaitan dengan film lain. Keterkaitan ini seperti kepingan-kepingan puzzle yang harus dirangkai oleh penonton untuk memahami cerita secara utuh.

Dari sisi sinematografi, film ini memiliki banyak sekali scenes yang bagus. Terlihat jelas bahwa sutradara menggarap film ini dengan sangat serius. Sayangnya, Anda tidak akan mendapatkan banyak pop-up scene jika ditonton dalam versi 3D. Tetapi hal itu tidak memengaruhi kualitas film.


Berbicara mengenai kemunculan 2 aktor besar Indonesia, hal ini justru membuat saya miris. Adegan yang didapatkan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian sangat sedikit. Bahkan jika scene tersebut dihilangkan, hal itu tidak akan berpengaruh besar pada jalannya cerita.

Berlanjut ke akhir cerita, menurut saya film ini ditutup dengan adegan yang anti klimaks dan terkesan menggantung. Setelah sutradara menyajikan pertempuran di luar angkasa yang sangat epic, akhir seperti itu seolah mengurangi kesan yang sudah di dapat penonton dari scene sebelumnya.


Secara keseluruhan, film ini menghibur dan layak untuk ditonton. Skor untuk film ini sebesar 8/ 10.

Thursday, December 10, 2015

THE WALK (2015)

Bagi orang yang memiliki rasa takut akan ketinggian, menyaksikan film berjudul The Walk merupakan sebuah tatangan. Film berdurasi 123 menit arahan Robert Zemeckis ini menyajikan beberapa atraksi gila Philippe Pelit (Joseph Gordon-Levitt) saat menjadi penampil jalanan di Perancis.

Philippe mulai jatuh cinta pada seni berjalan di atas tali saat dirinya menyaksikan aksi seorang bapak di sirkus yang belakangan diketahui bernama Papa Rudy (Ben Kingsley) yang kemudian mengajarkan Philippe banyak hal. Kecintaannya pada atraksi membuatnya terusir dari rumah. Philippe kemudian memulai atraksi jalanan pertamanya dan bertemu dengan seorang penyanyi jalanan bernama Annie (Charlotte Le Bon). Pertemuannya dengan Annie menjadi titik awal perjalanannya menuju New York.


Film biografi yang diangkat dari kisah nyata ini berjalan lambat namun dikemas dengan sangat menarik. Menggunakan gaya story-telling dan flashback membuat film ini terasa begitu nyata. Penonton seolah sedang mendengarkan penuturan seorang lelaki yang memiliki obsesi gila menyebrangi menara kembar WTC di New York dengan seutas tali.

Levitt tampil apik dengan aksen Perancis. Ia terlihat sangat medalami karakter Philippe Pelit dalam film ini. Gaya bicara, mimik wajah, dan gesture ditampilkan dengan sangat berbeda dari film-film terdahulunya. Dan yang membuat penasaran, apakah sebagian aksi juggling dan berdiri di atas tali benar-benar dilakukannya atau hanya efek CGI.


Meski film ini bertema biografi, ada beberapa unsur yang dimasukkan sutradara untuk membuat mata penonton tetap menatap layar. Beberapa unsur tersebut seperti aksi Levitt menjadi ‘mata-mata’ untuk mendapatkan informasi terkait gedung WTC.


Secara keseluruhan film ini dikemas dengan sangat menarik dan layak ditonton dengan skor 7,5/10. Selamat merasakan kengerian berdiri di atas menara kembar WTC, New York, AS.

Saturday, November 28, 2015

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY PART 2 (2015)

Petualangan Katniss Everdeen sebagai seorang Mockingjay akhirnya menemui titik akhir di film THG: Mockingjay Part 2 yang tayang perdana pada 20 November lalu. Film terakhir dari seri The Hunger Games ini lebih baik dibanding dengan bagian pertamanya. Di dalam film ini, adegan-adegan khas THG di seri terdahulunya cukup banyak bermunculan. Hal ini tentu menjadi alasan mengapa film terakhir ini layak ditonton oleh pecinta novelnya.

Film berdurasi 137 menit ini memiliki tempo agak lambat. Salah satu penyebabnya karena film ini dibuat menjadi dua bagian untuk kepentingan bisnis, meraup untung lebih besar. Sehingga terdapat beberapa scene yang dipaksakan dalam film ini.


Dalam film ini, Katniss bersama-sama pasukan gabungan dari setiap distrik bergerak untuk menyerang Capitol. Katniss begitu bersemangat untuk menghabisi nyawa Snow, sang Presiden. Sayangnya ia harus kehilangan sahabatnya satu persatu karena banyak terdapat ranjau di setiap jalan yang dilaluinya.

Untuk akting Jennifer Lawrence sudah tidak perlu diragukan lagi. Karakter Mockingjay yang memiliki pengaruh besar berhasil dihidupkan dengan baik olehnya. Karakter lain yang cukup mencuri perhatian di film ini adalah Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Peeta yang dicuci otaknya membuat penonton gemas. Di sinilah sutradara menghidupkan unsur drama dalam film ini.


Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dalam film ini sudah banyak aksi-aksi yang memompa adrenalin penonton meski belum bisa disetarakan dengan seri Catching Fire. Tensinya masih lompat-lompat dalam film ini yang terkadang membuat penonton kehilangan momentum.

Memasuki bagian akhir, film ini seolah berubah menjadi film drama seutuhnya. Berbagai kejadian mencekam yang dialami Katniss selama mengikuti games mematikan seolah sirna dalam 5 menit. Meski demikian, ending film ini tidaklah melenceng dari rangkaian kisah yang sudah ada di dalam film-film sebelumnya.


Overall, film ini layak ditonton karena cukup menghibur. Dan untuk skor akhir film ini adalah 7,8/10.

Tuesday, October 13, 2015

THE MARTIAN (2015)

Tak bosan-bosannya industri perfilman Hollywood memproduksi film-film bertema jelajah luar angkasa. Kali ini Matt Damon didaulat menjadi tokoh utama dalam film The Martian. Film adaptasi novel ini digarap oleh sutradara kawakan, Sir Ridley Scott. Dengan durasi yang sangat panjang yaitu 141 menit, Scott mencoba untuk meraih simpati penontonnya lewat penderitaan yang dialami oleh Mark Watney (Matt Damon) yang tinggal seorang diri di planet Mars.

Dari sisi cerita, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Tetapi yang menjadi nilai plus adalah bagaimana sutradara mengolah cerita yang mampu menguras emosi penonton. Mark Watney yang awalnya bersemangat, lambat laun mulai merindukan kehidupan sosialnya. Kesepian yang menyebabkan Mark frustasi disajikan dengan sangat baik oleh Matt Damon.


Sedangkan untuk pemandangan luar angkasa, tidak terlalu banyak disajikan dalam film ini. Sebagian besar scene dihabiskan untuk memvisualisasikan keadaan planet Mars yang gersang dan cenderung mirip gurun pasir. Selain itu juga kantor pusat NASA yang sedang mengusahakan misi penyelamatan terhadap Mark.


Saat peluncuran roketpun kurang digarap dengan baik karena hanya menampilkan layar yang sedang menyiarkan proses peluncuran roket. Tidak ada gambar yang diambil dari jarak dekat untuk memanjakan mata penonton.

Catatan minus lain di film ini yaitu saat menampilkan tubuh Mark yang menjadi sangat kurus karena pasokan makanan yang menipis. Dari beberapa angle yang disajikan, terlihat bahwa itu bukanlah tubuh Matt Damon karena tidak ditampilkan secara utuh.

Tetapi secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan layak mendapatkan skor 7.9/10.

Friday, October 9, 2015

PAPER TOWNS (2015)

Paper Towns merupakan film bergenre drama, misteri, dan romans sebagaimana dimuat dalam situs IMDb. Namun setelah menyaksikan film berdurasi 109 menit ini, rasanya kurang pas jika film ini dilabeli misteri. Meskipun Margo (Cara Delevingne) menghilang dengan cara yang misterius dan meninggalkan beberapa petunjuk bagi Quentin (Nat Wolff), hal ini lebih terlihat sebagai permainan hide and seek.

Paper Towns sendiri berkisah tentang Quentin yang berusaha menemukan lokasi keberadaan Margo yang tiba-tiba menghilang. Bermodal beberapa catatan yang ditinggalkan Margo, Quentin yang didampingi beberapa sahabatnya melakukan sebuah perjalanan ke negara bagian New York.


Jake Schreier selaku sutradara menggarap film ini dengan cukup apik. Meskipun film ini terkesan datar, tetapi banyak nilai yang diselipkan dalam film ini. Beberapa di antaranya yaitu bagaimana seseorang harus berani keluar dari zona nyamannya untuk dapat menemukan jati dirinya. Selain itu, nilai persahabatan juga disajikan dengan begitu baik dari awal hingga akhir.

Dua kondisi persahabatan yang saling bertolak belakang dikemas menjadi konflik cerita. Margo yang dikhianati sahabatnya, dan Quentin yang justru sangat kompak melakukan berbagai hal bersama sahabatnya. Bahkan hingga kelulusan tiba, ketiga sahabat ini masih menyempatkan diri untuk mengadakan 'pesta perpisahan' sederhana.


Sementara itu, unsur romans di film ini tidak semenarik unsur persahabatannya. Entah karena sedikitnya porsi yang didapat Margo atau karena sang sutradara tidak berhasil menyajikan konflik batin yang memyentuh hati penontonnya.


Untuk karakter yang ada di film sendiri digarap cukup baik. Penonton dapat dengan mudah mengingat karakter Margo yang frontal, Quentin yang pasif, Ben yang gokil, serta Radar yang serius dan mudah panik.

Dan film ini ditutup dengan kisah yang jauh dari dugaan. Que dan Margo tidak menjadi sepasang kekasih. Skor untuk film ini 7.9/10. 

Thursday, April 2, 2015

Fast and Furious 7 (2015)

Furious 7, film yang sudah dinantikan banyak penggemar itu akhirnya tayang juga setelah sempat molor setahun karena sang aktor utama, Paul Walker, tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan kalau biasanya saya memberikan rating untuk sebuah film di akhir ulasan, khusus untuk Furious 7 akan saya berikan di awal.

Untuk film yang mengusung tema 'One Last Ride' ini saya berani memberikan nilai 9.5/10. Terlihat berlebihan memang. Ini bukan semata karena fanatisme terhadap seri film ini, melainkan konten yang disajikan dalam film ini sangatlah keren menurut saya.

You'll get some surprises. Kejutan-kejutan itu yang saya sebut sebagai sesuatu yang keren. Penasaran kejutan apa saja yang ada dalam film ini? Yuk kita bedah!


They brought Paul back into movie

Saat saya membuat sebuah posting di forum komunitas, ada yang bertanya tentang nasib scene yang terdapat Paul Walker di dalamnya. Dan jawabannya sudah saya dapatkan saat menyaksikan adegan-adegan di mana Paul ambil bagian di dalamnya. And it's freaking amazing.

Kabarnya, dibutuhkan dana Rp 2,8 triliun untuk menghidupkan Paul. Menurut sumber yang dilansir Aceshowbiz, guna menghadirkan Paul, Universal Pictures menggunakan jasa tiga orang sekaligus. Mereka adalah saudara kandung Paul, Caleb Walker dan Cody Walker, serta seorang lainnya yang belum disebutkan identitasnya. Caleb dipasang karena memiliki ukuran tubuh dan gesture mirip Paul. Sementara, Cody memiliki kemiripan dengan Paul di bagian mata. Seorang aktor lainnya diterjunkan untuk mengerjakan bagian akting. (Metrotvnews.com)



Jika kematian Paul tak tersebar luas ke seantero negeri, bisa saya pastikan bahwa penonton tidak akan pernah tahu kalau Paul Walker dalam film tersebut adalah hasil dari rekayasa teknologi.



Ramsey, the new character that cannot drive

Biasanya, setiap kali Toretto merekrut orang dalam timnya, bisa dipastikan mereka adalah pembalap handal. Namun apa jadinya jika ada seorang peretas yang masuk dalam tim dan tidak bisa balapan?

Ya, ini adalah kejutan kecil yang menyenangkan. Karakter seorang peretas wanita yang berpenampilan sederhana, dan tentu saja tidak biasa kebut-kebutan di jalan, menjadi daya tarik dalam Furious 7. Di balik penampilan biasanya itu, dia adalah sosok penting yang menciptakan sebuah teknologi super canggih yang mampu memata-matai seluruh aktivitas dunia. Parahnya, kehadirannya justru mempersulit tim karena harus oper-operan manusia dari satu mobil ke mobil lain untuk menghindari kejaran tentara bayaran yang super kejam.


Keputusan memasukkan karakter baru yang anti-mainstream ini menurut saya sangatlah brilliant! Ramsey bagaikan minuman segar di saat dahaga. Ia menjadi nilai plus dalam film ini. Bayangkan saja, dari tema balapan liar tiba-tiba dikombinasikan dengan hal yang berbau teknologi digital seperti peretas.


They gave a happy ending in exchange for sadness!

A little surprise before the movie ends. Kejutan terakhir yang diberikan oleh James Wan selaku sutradara adalah salam perpisahan bagi Paul Walker. Tetapi seperti yang dikatakan Toretto, "Tidak akan pernah ada kata perpisahan karena di manapun kau berada, we're still brother!"

Menurut saya, scene penutup ini sengaja diciptakan sebagai bagian dari penghormatan terakhir mereka terhadap mendiang Paul Walker yang sudah banyak memberikan kontribusi dalam serial Fast and Furious.

Sekali lagi, karena faktor-faktor di ataslah saya berani memberikan nilai sangat tinggi untuk film ini selain (tentu saja) adegan-adegan khas seperti adu jotos dan balapan mobil.

Wednesday, February 11, 2015

THE BOY NEXT DOOR (2015)

Jennifer Lopez kembali meramaikan dunia perfilman tanah air. Dalam film The Boy Next Door, ia berperan sebagai Claire Peterson, seorang guru sastra di sebuah sekolah menengah.

Film yang bergenre thriller ini berkisah seputar kehidupan keluarga Claire yang berantakan karena sang suami, Garrett Peterson (John Corbett), berselingkuh dengan sekretarisnya. Claire yang tinggal bersama anak lelakinya, Kevin Peterson (Ian Nelson), mendadak kedatangan tamu seorang pemuda yang membantunya memperbaiki rolling-door garasi mereka. Pemuda tersebut adalah Noah Sandborn (Ryan Guzman), keponakan tetangga Claire yang baru saja pindah ke rumah sebelah karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kedekatan mereka berlanjut. Noah menjalin hubungan baik dengn Kevin. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua dalam memperbaiki mobil ataupun barang lain.


Suatu hari, Kevin pergi berkemah bersama ayahnya selama beberapa hari. Momen kesendirian Claire dimanfaatkan oleh Noah. Ia mencoba mendekatinya, merayu, hingga suatu malam Noah berhasil mengajak Claire berhubungan seks.


Malam yang disesali oleh Claire tersebut menjadi awal petaka baginya. Belakangan Noah menunjukkan sikap posesif yang sangat berlebihan dan menjadi sangat terobsesi. Ia terus meneror Claire dengan berbagai cara. Mulai dari ancaman berupa tulisan di toilet, "I fucked Claire Peterson", hingga disebarnya foto saat mereka berhubungan seks di kelas. Beruntung Claire berhasil membuang foto-foto tersebut sebelum murid-muridnya masuk.




Transformasi romatisme menjadi teror

Scene pertengahan perlahan bergerak dari drama keluarga menjadi potongan-potongan ketegangan. Rob Cohen selaku sutradara berhasil menyajikan film yang menghentak jantung penontonnya.


Cerita bergerak maju dengan sedikit flashback yang mengungkap fakta bahwa Noah adalah seorang psikopat. Penolakan Claire dan kecemburuan Noah terhadap Garrett membuatnya semakin tidak terkendali. Dan dari file-file yang ditemukan Claire di laptopnya, diketahui bahwa ia adalah dalang di balik kematian orangtuanya.

Di penghujung film, cerita mencapai klimaksnya dimana Noah membunuh kepala sekolah, Vicky Lansing (Kristin Chenoweth), dan membawa Claire ke gudang tempat ia menyekap suami dan anaknya. Dan di dalam gudang ini terjadi beberapa adegan yang membuat penonton bergidik, mulai dari baku tembak hingga penusukan mata Noah dengan suntikan.

Secara keseluruhan, film ini sangat memuaskan karena banyak menghadirkan kecemasan penonton. Skor 4/5.

Saturday, January 24, 2015

SEVENTH SON (2015)

Julianne Moore kembali beradu peran dengan Jeff Bridges dalam film Seventh Son. Namun dalam film ini keduanya digambarkan sebagai pasangan yang tidak mungkin bersatu karena latar belakang yang berbeda. Julianne Moore berperan sebagai Mother Malkin, pemyihir jahat yang berusaha membangkitkan dunia kegelapan sedangkan Jeff Bridges sebagai John Gregory, the Spook atau prajurit mistis yang bertugas menghancurkan para penyihir.

Film Seventh Son sendiri diadaptasi dari novel berjudul The Spook's Apprentice. Film yang berkisah tentang perjuangan Gregory melenyapkan kekuatan gelap yang dimiliki Mother Malkin. Dalam perjuangannya tersebut Gregory dibantu oleh seorang anak ketujuh yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Malkin. Anak tersebut adalah Tom Ward (Ben Barnes) yang merupakan keturunan dari seorang penyihir yang menentang rencana Malkin untuk mendirikan kerajaan kegelapan.


Gregory menjemput Tom di rumahnya yang terpencil dan mengajarinya cara untuk melawan Malkin.




Kisah klasik bernuansa romans

Di hari pertamanya, Tom bertemu dengan Alice (Alicia Vikander) yang sedang diarak warga di tengah pasar. Meski ia tahu bahwa Alice adalah penyihir, Tom justru membantunya dan membiarkan Alice pergi.


Ini merupakan awal mula di mana keduanya mulai saling menyukai. Asmara backstreet itu menjadi bumbu manis dalam perjalan Tom menuju kerajaan Mother Malkin.

Secara keseluruhan, film ini digarap dengan unik. Tokoh-tokoh sihir yang ditampilkan merepresentasikan binatang-binatang tertentu. Mengingat film ini diproduksi oleh Legendary Pictures yang juga memproduksi film-film seperti Godzilla, Batman, dll., ada kesan bahwa karakter penyihir yang disajikan mirip dengan monster-monster di film Godzilla. Untuk visual efek terbilang cukup baik. Dan skor untuk film ini 7.8/10.



Tuesday, December 30, 2014

ASSALAMUALAIKUM BEIJING (2014)

歡迎到北京 (Huānyíng dào Běijīng), Selamat datang di Beijing. Saya mengerutkan dahi. Menyesal sekali saya menyaksikan film Assalamualaikum Beijing! Ya, benar-benar menyesal karena terlambat 5 menit masuk ke dalam studio sehingga tidak tahu apa yang terjadi di 5 menit awal.

Tetapi saya tidak hendak membahas kekurangberuntungan yang saya alami di sini melainkan fokus pada film bergenre drama-religi ini.

Assalamualaikum Beijing, film adaptasi dari novel karya Asma Nadia ini berkisah tentang Asmara Nadia (Revalina S. Temat) yang galau akibat pengkhianatan kekasihnya, Dewa (Ibnu Jamil). Hubungan keduanya rusak karena Dewa berselingkuh dengan rekan sekantornya. Asma pun mendapat tawaran kerja di Beijing melalui bantuan rekannya, Sekar (Laudya Cynthia Bella).

Asma memulai petualangannya sebagai seorang reporter di Beijing. Di hari pertama perjalanan tanpa pemandu, Asma bertemu dengan Zhongwen (Morgan Oey), pemuda asli Cina yang di kemudian hari menjadi pemandunya menjelajahi Cina.


Hubungan keduanya kian erat. Diam-diam Zhongwen jatuh hati pada Asma. Ia menganggap Asma adalah Ashima yang menjadi legenda kesetiaan cinta seorang puteri dari Yunan. Namun, ujian cinta Zhongwen datang saat Asma terserang penyakit langka dan harus pulang ke Indonesia.



Film Akhir Tahun yang Indah dan Romantis

Indah dan romantis, dua kata ini cukup untuk menggambarkan film Assalamualaikum Beijing. Indah dari sisi cinematography di mana penyajian gambar sangat apik. Tempat-tempat yang berkaitan dengan alur cerita dieksplor dengan sangat baik. Penyajiannya pun sangat informatif, seolah penonton adalah traveler yang sedang mengunjungi Cina dan membutuhkan informasi singkat tentang lokasi yang dikunjungi.


Romantis. Ya, Morgan Oey mengulang kesuksesan Joe Taslim yang juga tampil memukau dalam film La Tahzan. Morgan berhasil menghidupkan karakter Zhongwen. Dari sisi akting terlihat natural, hanya logat Mandarin yang perlu sedikit eksplorasi karena masih agak kaku. Tetapi hal ini tidak memengaruhi jalannnya cerita.

Keromantisan juga berhasil ditransfer dengan sangat baik melalui dialog-dialog dan bahasa tubuh.

我們並不需要完美的身體只是為了有一個完美的愛情 (Wǒmen bìng bù xūyào wánměi de shēntǐ zhǐshì wèile yǒu yīgè wánměi de àiqíng), tidak perlu kesempurnaan fisik untuk mendapatkan kesempurnaan cinta. Wooaah, bergetar hati ini menyaksikan Zhongwen meyakinkan Asma bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Asma dan hendak menikahinya.


Penampilan Laudya Cynthia Bella juga berhasil mencuri perhatian di film ini. Setelah memerankan Marbell, pekerja di sebuah klub malam di Thailand, di Haji Backpacker, dalam film Assalamualaikum Beijing Laudya justru berakting sebaliknya. Ia memerankan tokoh Sekar yang berkerudung, lincah, lucu, dan manja.

Revalina? Tidak perlu diragukan lagi. Ia telah sukses dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Kerja kerasnya memerankan tokoh Asmara sangat berhak mendapatkan acungan jempol.




Salut untuk para pemain dan seluruh kru yang telah bekerja keras menyajikan film penutup tahun yang sangat indah.

我相信,這將是一樣強的父母的愛, saya percaya film ini akan sukses seperti apa yang ditulis Asma di akhir kisahnya, kekuatan cinta keduanya akan menguatkan segalanya. Skor 8/10.

Wednesday, December 24, 2014

STAND BY ME DORAEMON

Mendengar nama Doraemon, anak-anak atau bahkan orang dewasa akan segera teringat pada kantung ajaib, baling-baling bambu, atau mesin waktu. Ya, film kartun yang sangat legendaris itu sudah sangat melekat di hati. Film yang ditayangkan pukul 8, Minggu pagi, selalu ditunggu kehadirannya.

Stand by Me Doraemon disebut-sebut sebagai film terakhir dari serial-serial yang selalu diputar di televisi. Dalam film ini, tokoh utama Nobita dan Doraemon sudah mencapai tujuan mereka masing-masing. Doraemon yang diutus untuk mendampingi Nobita mencapai masa depan yang lebih baik, pada akhirnya berhasil mewujudkan misinya. Nobita sendiri telah melihat masa depannya dengan jelas, tidak seperti serial televisi yang seolah menutup rapat misteri masa depan Nobita.


Film ini dibuka dengan kedatangan Sewashi yang merupakan cucu Nobita. Sewashi menugaskan Doraemon untuk membantu Nobita mengatasi masalahnya sehari-hari agar kelak bisa jadi anak pintar dan sukses. Sewashi menjelaskan bahwa jika Nobita tidak berubah, di masa depan ia akan menikah dengan Jaiko, adik Giant. Hal itu membuat Nobita kaget dan berusaha keras untuk berubah. Tetapi, sekeras apapun usaha Nobita, ia tetaplah Nobita yang lemah, lamban berpikir, dan segudang kekurangan lainnya.


Suatu hari, Nobita berusaha keras untuk berubah. Dalam menghadapi ujian sekolah, Nobita belajar matematika mati-matian. Dengan percaya diri, Nobita mengambil kertas ujian. Alangkah terkejutnya Nobita karena yang diujikan bukanlah matematika melainkan Bahasa Jepang. Alhasil ia mendapat nilai NOL.

Selain itu, konflik cinta segitiga antara Nobita, Sizhuka dan Dekisugi juga menyedot perhatian penonton. Perjuangan Nobita mendapatkan cinta Sizhuka selalu terhalang oleh kesempurnaan Dekisugi.


Film ini juga tidak terlalu banyak menampilkan penggunaan alat-alat masa depan yang tersimpan di kantung ajaib. Beberapa yang ada hanya disuguhkan untuk mengingatkan tentang keistimewaan karakter tokoh Doraemon, si Kucing Berkantung. Salah satunya adalah telur yang jika digunakan dapat membuat orang yang masuk ke dalamnya jatuh cinta pada orang pertama yang dilihatnya.


Film ini juga berhasil menguras emosi penonton namun tetap memberikan unsur hiburan. Orang dewasa yang menyaksikan film ini tak akan malu untuk menitikkan airmata.


Sayangnya, film ini ditutup dengan kedatangan kembali si Kucing Berkantung. Andai scene penutup ini tidak ditampilkan, emosi penonton akan terbawa hingga keluar studio. Tetapi secara keseluruhan, film ini tetap melebihi ekspektasi penonton dan layak mendapatkan 4/5.

Benarkah ini akhir kisah Doraemon? Tampaknya pertanyaan ini masih menjadi misteri mengingat pengarang Doraemon telah meninggal sebelum menyelesaikan kisah Doraemon.

Saturday, December 20, 2014

BOYHOOD (2014): 12 YEARS EPIC MOVIE

Siapa yang tak kenal Richard Linklater? Sutradara kenamaan Hollywood ini terkenal  dengan film-film yang dibuat dengan durasi waktu yang tidak sebentar, sebut saja trilogi Before yang diproduksi tiap 9 tahun.

Dalam film terbarunya berjudul BOYHOOD, Linklater memecahkan rekor pribadinya dengan memproduksi film yang menghabiskan waktu 12 tahun dalam proses pembuatannya. Film yang mengangkat tema tentang kehidupan seorang anak berumur 6 tahun bersama keluarganya ini sangatlah menarik. Betapa tidak, tokoh-tokoh dalam film ini adalah satu individu yang sama mulai dari kecil hingga dewasa. Jika di kebanyakan film Hollywood lain banyak kita jumpai daftar pemeran dengan label 'kecil' dan 'dewasa' untuk satu tokoh, maka hal itu tidak akan kita jumpai di sini.

Mason (Ellar Coltrane) adalah seorang anak lelaki berumur 6 tahun yang gemar menonton film dan bermain game. Ia tinggal bersama ibunya, Olivia (Patricia Arquette), dan kakak perempuannya, Samantha (Lorelei Linklater). Dalam kehidupan keluarganya, Mason harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tidak memiliki hubungan yang harmonis dan memutuskan untuk berpisah. Olivia kemudian membawa keduanya ke Houston.


Dari sinilah perjalanan tumbuh kembang Mason dan Samantha dimulai. Linklater 'mendokumentasikan' fase demi fase perkembangan mereka dengan sangat apik, halus dan terlihat sangat natural. Konflik-konflik yang disajikan pun sesuai porsinya. Mulai dari kehidupan Olivia yang berperan sebagai single-mother dan akhirnya memutuskan menikah dengan seorang profesor di kampusnya.

Mason dan Samantha menghabiskan waktu beberapa tahun bersama ayah tiri mereka. Konflik antara ayah tiri dan anak tiri seolah menjadi momok yang menghantui kehidupan Mason. Hingga suatu hari, pertengkaran hebat tak terelakan. Olivia memutuskan bercerai dan membawa kedua anaknya.



It's a little bit like timelapse photography of a human being --Hawke


Kegagalan kedua Olivia dalam membina rumah tangga, membuat hubungan Mason, Samantha dan ayah kandungnya (Ethan Hawke) semakin erat. Saat keduanya tumbuh menjadi remaja, ayahnya memberikan nasihat tentang hubungan seks bagi remaja. Pentingnya alat kontrasepsi dalam hubungan pra-nikah.



Hal ini memberikan gambaran bagaimana orangtua di barat sangat terbuka dalam urusan seks. Lingkungan juga sangat memengaruhi perkembangan remaja di dunia barat. Contoh yang diangkat Linklater adalah saat Mason memutuskan berkemah bersama beberapa teman dan seniornya. Dalam dialog-dialog di scene tersebut dijelaskan bahwa seks dan alkohol adalah lifestyle bagi remaja. Hidup tanpa seks dan alkohol membuat mereka dikucilkan atau bahkan dituding sebagai penyuka sesama jenis.



The real assessor of life

Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, Mason memiliki ketidakstabilan emosi. Ia adalah seorang anak berbakat yang mencintai dunia fotografi. Ia sering menghabiskan waktunya di ruang praktek tetapi melalaikan tugas-tugas sekolah.


Hal ini membuat gurunya prihatin. Guru fotografi ini pun menasihati Mason agar lebih giat dalam hal pendidikan. Banyak orang berbakat yang kalah bersaing karena mereka tidak memiliki semangat untuk maju. Dunia kerja sangat kompetitif, jika ia tak bekerja keras, maka ia akan tersisih dalam setiap persaingan.

Hal ini tak lepas dari pengalaman buruk yang dirasakan Mason. Di mana ibunya adalah seorang berpendidikan dan menjadi dosen di universitas. Tetapi kenyataannya, ibunya tidak memiliki kehidupan rumah tangga yang baik.

Secara keseluruhan, film ini sangat kaya pesan moral dan memberikan motivasi bagi setiap orang. Film ini layak mendapatkan nilai 9.5/10.