Showing posts with label LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010. Show all posts
Showing posts with label LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010. Show all posts

Thursday, September 16, 2010

Orang Bijak Taat Pajak

Pagi tadi, dengan semangat membuncah, aku berangkat ke Samsat Depok. Sehari sebelumnya, ku sempatkan tanya sana sini, supaya di hari H gak canggung lagi.

Sebenarnya, ini lebih cepat dari rencana awal. Kenapa tiba-tiba aku berubah pikiran?? Ya, salah satu alasannya supaya sepi, mumpung orang lagi pada sibuk mudik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Berangkat dari rumah sebelum jam delapan, tiba di sana, motor yang mengantri cek fisik sudah penuh!

"Arrghh! Gila banget, salah prediksi nih!" jeritku dalam hati, gak berani benar-benar teriak, ntar bakal dikira gak waras lagi. hahaha...

Tanpa membuang waktu, aku masuk antrian. Orang-orang di depanku sudah sibuk membuka body motor masing-masing. Aku?? Masih nyantai aja kayak orang gak punya dosa. Maklumlah, kagak ngarti!

Wajah tegangku tersembunyi di balik helm full-face yang sengaja tak kulepas.. hahay... Dari pada malu, keringat bercucuran, mending berlaga kayak manusia planet deh...

Saat berhadapan dengan petugas, aku tak kuasa menyembunyikan wajahku yang tegang. Tiba-tiba dia bilang dengan nada setengah membentak, "Mas! Ini dibuka dulu," tangannya memegang obeng yang diketuk-ketukkan ke bagian yang harus di lepas.

"Nih obengnya! Kalau sudah selesai, jangan lupa dibalikin, ya!" tambahnya.

Aku tersenyum sambil menjawab, "Tenang, pak! Saya balikin kok."

Ugh... parah niy, segera kucopot helm. Kuletakkan di bawah. Dengan cepat tanganku memutar-mutar obeng, berharap baut atau mur (gak tahu namanya nih) segera terlepas.

Cihuy... akhirnya berhasil. Padahal sebelumnya gak pernah tuh bongkar-bongkar.

Semua selesai, tinggal urus administrasi.

Dengan santai aku melenggang ke loket permohonan perpanjangan STNK. Kuserahkan berkas dengan penuh percaya diri. Lalu melangkah menjauh, mencari tempat duduk. Kuhempaskan tubuhku ke kursi tunggu. Tapi dengan sangat terpaksa batal. Arrghh, si satpam memanggilku lagi.

"Ada apa sih?!" tanyaku dalam hati.

"Ini diisi dulu, mas!" kata satpam itu sambil membuka map, menunjukkan kepadaku formulir permohonan.

Singkat cerita, semua beres. Kukembalikan berkas ke loket. Kulirik jam di hape, jam sembilan lebih tigapuluh menitan.

Sambil menunggu, jari-jariku menekan keypad hape. Kukirim beberapa pesan ke temanku. Berharap ada balasan, biar gak bete! Sesekali cek FB --tetep narsis bin eksis--, gak ada komen! Malang banget... huhuhu...

Tak terasa dua jam berlalu. Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih sekian menit. Aku mulai ketar ketir. Gimana nggak panik, sebentar lagi petugasnya pada istirahat. Kalo sampai terlewat, wuiiih... bisa telat kerja nih!

Tanya satpam aja deh, pikirku. Tapi gak dapat jawaban yang memuaskan. Akhirnya aku tanya ke bagian loket, "Pak, berkas saya sudah sampai mana, ya??"

Petugas mulai membalik-balik buku catatannya. Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Udah sampai akhir, balik lagi ke depan. Terus aja tuh kertas dibolak-balik sampai kering! Kagak ketemu si 6192 EDU!

Parrrahhhh!! Ternyata berkas terselip! Dasar tidak bertanggung jawab, kalo gak inget kantor polisi, pasti udah mencak-mencak tuh! Nyebelin bangggat!!

Kuputuskan meninggalkan kantor samsat dengan hati penuh amarah!!

***

Di belahan bumi lain, tepatnya di Cipete, tempat kerja.

Kuceritakan masalah ini pada rekan kerja... Cari perhatian dikit ah... hahay... Semua merespon dengan sangat antusias.

Saat berbincang dengan sang OB, aku berkata padanya, "...nuuuut... (sensor, nyebut nama!), boleh pinjem mukanya, gak?"

"Widih!! Mau ngapain luw?!" jawabnya spontan.

"Buat saya tamparin! Biar kesal saya hilang nih," balas saya lagi.

"Weedeeeh, enak aja luwh! Kesal sama polisi, muka gue dijadiin pelampiasan."

***

Huft!! Begitulah...

Wednesday, August 25, 2010

Macet, Legalkan Langgar Aturan


Macet, kata yang bisa bikin panik siapa saja. Suasana tenang pun mendadak pelik. Betapa tidak, saat terjebak macet, orang akan melakukan apapun agar bisa terbebas darinya. Ya, apapun dilakukan asal cepat terlepas dari macet.

Kadang, hal bodoh pun dilakukan. Semacam ungkapan frustrasi, mungkin. Contohnya apa? Pencet klakson berkali-kali dalam waktu berdekatan. Mengumpat siapa saja, orang di depan, samping kanan dan kiri. Sekedar melepas amarah! Meluapkan kekesalan. Padahal si pelaku tahu, dengan melakukan hal-hal bodoh itu, macet tak akan hilang. Macet tetap akan terjadi, menghambat pergerakannya.

Macet terjadi apabila volume kendaraan yang melintas melebihi kapasitas jalan. Jika sudah begini, maka pengendara (khususnya motor) mendadak jadi orang hebat, berakrobat di trotoar jalan, salib sana sini.

Sebagai contoh, kita ambil kasus seorang yang bekerja di ibukota (saya). Jika orang tersebut berangkat dari rumahnya sebelum pukul tujuh pagi, maka ia tidak akan menemukan kendala berarti (macet parah), tetapi jika ia berangkat setelah jam tujuh, dapat dipastikan bahwa ia akan terjebak macet.

Kesimpulan sementara, macet bisa diprediksi. Yang terpenting adalah, tahu titik macet dan kapan waktu volume kendaraan meningkat. Dengan begitu, kemacetan dapat dihindari.

Kembali ke poin awal, macet legalkan langgar aturan. Sebagaimana diuraikan pada paragraf-paragraf sebelumnya, tindakan-tindakan yang dilakukan pengendara seperti melintasi trotoar (jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki), menggunakan jalur yang semestinya untuk lawan arah, dll., adalah bentuk pelanggaran aturan yang berlaku di saat kondisi normal. Polantas pun mendadak jadi ‘macan ompong’. Seberapa pun banyaknya ‘daging’ (baca: pelanggar aturan) lewat, polantas hanya bisa melihat dari kejauhan, tak akan bertindak atau menilang, misalnya.

Lagi-lagi, macet seolah menjadi alasan bagi aparat penertib jalan untuk bertindak pasif. Padahal di saat kondisi normal, polantas begitu garang terhadap pelanggar peraturan. Belok kiri saat lampu lalu lintas berwarna merah saja diberhentikan, ditilang! Apalagi lewat jalur yang bukan semestinya, hmm… bisa lebih berat hukumannya.

Lampu lalu lintas pun tidak berfungsi jika kemacetan yang terjadi bersifat abnormal. Hijau tidak berarti boleh melintas, dan merah tidak berarti dilarang melintas, akan tetapi disesuaikan dengan banyaknya jumlah kendaraan yang menunggu melintas.

Di ibukota, menurut pengamatan penulis, kemacetan yang terjadi lebih sering disebabkan oleh banyaknya jumlah lampu lalu lintas. Dapat dibayangkan, setiap tiga ratus atau lima ratus meter terdapat lampu lalu lintas, setiap lampu hanya selisih satu sampai satu setengah menit. Jika volume kendaraan yang mengantri melintas sangat padat, lampu lalu lintas tersebut menjadi hambatan tersendiri.

Kesimpulan akhir, macet adalah kondisi yang membuat peraturan-peraturan lalu lintas berguguran, tak berlaku. Sehingga pengendara mendapat otorisasi untuk melanggar aturan tersebut.

Monday, August 16, 2010

Takut ‘Otak’

Hmm... bingung mau mulai kisah ini dari mana. Pasalnya, judulnya serem banget, bikin mood untuk menulis mendadak hilang. Pun demikian, akan kucoba untuk menuliskan kisah ini apa adanya.. hehe...

Beberapa hari sebelum tanggal 15 Agustus, sebuah undangan buka bersama dari teman semasa sekolah terpampang di halaman utama FB-ku. Ku klik event tersebut, muncul tiga pilihan, yes-no-maybe, kupilih maybe.

Singkat cerita, hari yang dinanti datang menghampiri. Allah memang baik, jika melihat jadual kerjaku, maka tidak mungkin bagiku untuk datang ke acara tersebut, tapi segalanya jadi mungkin atas izin-Nya.

Kehadiranku disambut hangat oleh teman-teman yang hadir sebelumku. Obrolan ringan pun mengalir, mengenang kembali masa-masa kami di sekolah dulu.

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa waktu maghrib hampir tiba, suasana aneh pertama dimulai. Pelayan rumah makan mulai mengantarkan makanan yang telah dipesan sebelumnya.

Mataku terbelalak melihat hidangan yang dengan sangat cepat memenuhi meja kami. Aku menoleh ke samping kanan, guru komputerku tampak heran, sama sepertiku. Kami tersenyum, dan tanpa komando berujar, "Hari ini bukanya pakai tahu aja?"

Dengan cepat virus 'tahu' menjangkiti hampir semua yang hadir. Kami semua benar-benar heran, tahu penyet itu masih saja berdatangan. Akhirnya ketua panitia berhasil menghentikan tahu itu, "Mba..., sudah kelebihan nih!" katanya pada pelayan.

Kini di meja tersaji beberapa makanan. Minuman pun datang, teh manis hangat. Dari beberapa gelas yang ada, terselip satu gelas teh manis plus es batu. Kejadian aneh kedua dimulai. Dua orang teman berebut gelas tersebut. Dan akhirnya panitia harus menambah satu gelas es teh manis untuk meredam gejolak.. hihi..

"Alhamdulillah, sudah maghrib!" kata kami serempak saat mendengar azan di TV. Dengan cepat tangan-tangan lapar kami menjamah apa saja yang ada, termasuk otak-otak.

Suasana masih cair saat kami melahap setumpuk otak-otak di atas meja.

Pelayan memberikan bon kepada kepala suku kami. Dan saat itu, raut wajahnya tampak tegang. Aku mulai menyadari, ada yang salah dengan menu kami.

"Duh, temen-temen, maaf... otak-otaknya gak masuk hitungan menu, jadi harus dibayarkan terpisah! Harganya Rp 3.000 per otak-otak," kata guruku.

Aku menoleh ke teman sebelahku. Di tangannya masih terdapat setengah otak-otak yang belum dimakan. Ia tersentak! Tertawa terbahak sambil berseloroh,"Wah, otak-otaknya ranjau nih!"

Entah berapa banyak otak-otak yang habis. Yang jelas itu jadi pukulan berat untuk orang yang menyantapnya.

"Wah, parah nih! Di terminal cuma gope!" kata teman yang lain.

Panitia pun mulai menagih inpak, iuran paksa, untuk menyelesaikan administrasi. Alhasil, penggila otak-otak harus merogoh kocek lebih dalam dari yang lain.



* Semoga tidak trauma dan takut jika nanti di rumah makan ada setumpuk otak-otak tersaji di atas meja! Hahaha...

Tuesday, July 27, 2010

Hingga Ruh Bosan Berada Di Jasadnya

Di keheningan malam, Budi mengenang masa kecilnya. Saat dimana dirinya masih duduk di pangkuan ibunda tercinta. Merasakan lembutnya belaian tangan dan hangatnya kasih sayang ibu untuknya.

Kini ia telah beranjak dewasa. Rasa itu tidak berubah, tetap sama seperti dulu.

Sebagai seorang anak dari seorang PNS, Budi tak pernah menuntut ini dan itu. Ia menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan. Ya, sederhana. Itulah citra yang melekat pada seorang PNS dan keluarganya. Sangat jarang PNS bisa hidup makmur, dengan fasilitas serba cukup.

Sang Ayah menginginkan Budi menjadi PNS, sama seperti kedua orang kakaknya. Adik lelakinya tengah menjalani pendidikan di Lembaga Sandi Negara, dan itu berarti gerbang menuju PNS terbuka luas. Tinggallah ia seorang yang kini harus berjuang.

Ayah berusaha mencarikan beberapa peluang untuknya. Dan berhasil. Di pertengahan tahun 2007, Budi mendapat tawaran mengajar di sebuah SMPN di Depok, menjadi guru honorer. Kini ia bisa bernapas lega. Setidaknya, jalannya menuju status PNS telah terbuka.

Ia mencurahkan semua perhatiannya pada pekerjaannya. Ia belajar dari pengalaman Ayahnya, berusaha mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Sambil mengajar, ia menimba ilmu di malam hari. Melanjutkan pendidikannya ke jenjang strata satu.

Ia punya satu tekad. Tak ingin citra ‘sederhana’ itu melekat padanya jika ia diangkat menjadi PNS nanti. Ia berusaha menciptakan peluang. Membuka beberapa usaha sampingan. Mulai dari kedai pulsa, hingga jual beli alat elektronik bekas. Ia ingin menjadi seorang PNS yang mandiri, yang tidak memanfaatkan jabatannya sebagai alat untuk memperkaya diri.

Usahanya berhasil. Meski gaji yang didapatnya dari mengajar tak seberapa, ia tetap bisa memenuhi kebutuhannya dari hasil usahanya.

Suatu malam, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang berbincang dengan tetangga jauhnya.

“Budi!” sapa tetangganya.

Ia menghampiri keduanya. Perbincangan santai mengalir. Dan dari perbincangan itu, ia tahu bahwa pemuda itu membutuhkan bantuan. Budi menawarinya tinggal di rumahnya. Ia tak sedikit pun menaruh curiga pada orang yang baru dikenalnya, yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya di kampungnya. Begitulah seorang Budi, ia selalu ingin berbagi pada siapapun.

###

Di penghujung tahun 2009, sebuah kabar gembira menghampirinya. Ia dipromosikan oleh kepala sekolahnya untuk diangkat menjadi PNS.

Sebelum SK penetapan diterbitkan, ia wajib menjalani pendidikan pra-jabatan. Ia mempersiapkan semua dengan sangat matang. Doa pun tak henti-henti dipanjatkan.

Saat hari yang dinantikan semakin dekat, sebuah ujian berat menghampirinya. Tangan kanannya patah saat ia bertanding dalam kompetisi bola. Harapannya pupus.

Dengan sabar, ibu tercinta mendampinginya melalui masa-masa sulit. Ia hampir putus harapan saat dinyatakan bahwa ia batal mengikuti program pra-jabatan karena patah tangan.

Ia kesal pada dirinya! Mengapa semua ini terjadi di saat ia hampir berhasil memenuhi harapan kedua orangtuanya, menjadi seorang PNS.

Ia mengeluh di pangkuan ibunya, “Bu.., maafin Budi, ya… Budi belum bisa bikin ibu dan bapak bangga. Maafin Budi jika terus menyusahkan ibu.” Airmata menganak sungai di pipinya.

“Jangan bicara begitu, Budi! Apapun yang terjadi, ibu dan bapak tetap bangga sama kamu. Jangan berpikir yang aneh-aneh, ya!” balas ibu sambil membelai lembut rambutnya.

Budi semakin sedih. Ia merasa kembali ke masa kanak-kanak. Kembali menyusahkan ibunya ketika hendak makan, atau berpakaian.

###

Dua bulan berlalu. Tangannya mulai pulih. Ia telah mampu menulis seperti biasa. Meski rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya, ia terus melatih tangannya melakukan rutinitasnya.

Semua kembali normal. Budi tak lagi menyesali kegagalan yang dialaminya. Ia menjadikan hal itu sebagai pelajaran berharga. Sebagai titik awal menuju kesuksesan yang lebih besar. Ia membangun kembali optimismenya, bahwa semua yang dicita-citakannya akan terwujud di hari depan. Tak peduli kapan masa itu datang. Ia akan terus berjuang hingga ruh bosan berada di jasadnya!

I Love You, Friends

7Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah buku bertemakan tentang persahabatan, judulnya I Love You, Friends. Kisahnya seru-seru, membuatku ingin melakukan hal serupa, menulis kisah persahabatanku. Siapa tahu, jika buku itu dicetak ulang, kisahku bisa masuk ke dalamnya. Obsesi penulis mode on. Hahaha…

Ini dia kisahnya…

Mmm… dari mana kisah ini harus dimulai, aku jadi bingung sendiri. Kenapa? Karena kisah persahabatan yang satu ini tergolong unik. Layak disebut persahabatan atau tidak pun aku tak tahu. Tapi, yang kurasakan adalah ia seorang sahabat. Sahabat yang asing. hehe..

Dua tahun silam aku bertemu dengannya. Di ruang kelas yang tak terlalu luas. Kapan persisnya aku lupa. Bahkan bagaimana kami berdialog pertama kali pun aku tak ingat. Aneh memang, tapi ini dia seni dari persahabatan yang kumiliki.

Jatuh bangun mencoba menjalin komunikasi, selalu berujung pada kegagalan. Waktu dua tahun seolah tak cukup bagi kami untuk saling mengenal satu sama lain.

Aku hampir menyerah. Kuhapus nomor ponselnya suatu waktu. Lama tak ada komunikasi. Sampai suatu hari, aku menerima nomor baru. Ternyata dari sahabat yang hampir hilang itu. Segera kusimpan nomornya. Dalam hati kuniatkan untuk memperbaiki hubunganku dengannya.

Dua tahun berlalu. Aku masih asing terhadapnya. Begitu pun dia terhadapku.

Belum lama ini, ia mendapat musibah. Lengannya patah saat bertanding dalam kompetisi bola tarkam, antar kampung… hehe… (salah apa gak, ya?? Mudah-mudahan salah… hehehe..). Momen ini kumanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki hubungan untuk kesekian kalinya. Aku mengajak beberapa teman sekelas untuk menjenguknya. Ia menyambut baik niatku, “silaturrahmi,” katanya melalui pesan singkat.

Karena satu alasan, harinya dimajukan sehari dari jadwal awal. Aku mencoba mengabarkan perubahan itu via telepon. Sayangnya ia telah tertidur. Tetapi teman-teman sudah bertekad untuk berangkat malam itu. Aku mengekor.

Saat hampir tiba ke TKP, dia menelepon ke teman yang saat itu satu motor denganku. Ia bilang bahwa saat itu ia sedang tidak ada di rumah, sedang ke tempat urut alternatif, baru pulang keesokan harinya. Aku patah arang. Betapa tidak! Jauh perjalanan yang sudah kami tempuh, tapi yang bersangkutan malah tak di sarangnya.. hehe…

Tak ingin usaha sia-sia, kami melanjutkan perjalanan. Ada atau tidaknya ia, tak jadi soal. Yang penting misi malam itu terealisasi.

Ia kembali menelepon. Meminta kami mengurungkan niat untuk menyambangi rumahnya. Tak tanggung-tanggung, ia melayangkan ancaman serius kepada teman yang diteleponnya. Dengan santai aku tetap melanjutkan perjalanan.

Beberapa menit berlalu. Kami tiba di rumahnya dengan selamat. Kami disambut ramah oleh orang-orang yang sedang berkumpul di depan rumahnya. Dan ternyata, dia berbohong. Sekali lagi, DIA BERBOHONG! Dia sengaja meminta kami balik agar misi malam itu gagal. Tega banget, kan??

Saat yang lain sibuk berbincang, aku masih tetap diam seribu bahasa. Hanya sesekali melihatnya di pembaringan. Miris. Keceriaannya hilang, tertelan rasa sakit yang tak dapat kuungkapkan. (soalnya dia gak cerita gimana rasanya.. hehe)

Hari-hari terus berlalu. Pertemuan hari itu tak terlalu membawa pengaruh yang signifikan pada persahabatan kami. Kami tetap diam.

Di belahan dunia lain, dunia sms maksudnya.. aku bisa menjalin komunikasi dengannya secara lancar. Sesekali canda-canda garing terlontar lewat sms.., bahasan-bahasan yang tak terucap di alam nyata, dengan mudah dapat diutarakan lewat sms. Aku sempat berpikir, mungkin memang takdir kami hanya bisa menjadi sahabat di dunia sms.

Jika dianalogikan. Kami ibarat magnet yang memiliki kutub yang sama. Dimana jika didekatkan, akan saling tolak menolak. Tak mungkin bisa bersatu meski dipaksa sekalipun. Pun demikian, aku tetap menganggapnya sahabat. Tak peduli berapa banyak waktu yang terbuang untuk memecah kebekuan. Ia tetaplah seorang sahabat bagiku. Seorang kakak juga..

Ada hal unik lain dari persahabatan kami. Apa? Cara kami memanggil satu sama lain. Aku memanggilnya abang karena ia setahun lebih tua dariku. Sedang dia memanggilku mas. Aku tak tahu mengapa ia memanggilku dengan menyematkan kata mas, mungkin karena wajahku bermutu, alias bermuka tua.. hahaha… Itulah kami, berusaha menghargai satu sama lain.

Saat usianya seperempat abad, aku menyusun sebuah surprise party untuknya. Awalnya kukira mudah, tapi ternyata membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra keras. Maklum, belum pernah membidangi EO sebelumnya. Belum lagi masalah koordinasi dengan teman-teman yang mendukung acara tersebut, ribet! Berkali-kali kata batal terlontar, tapi pada akhirnya terealisasi dengan manis.

Kabar terakhir yang kudapat, ia akan pindah ke Kota Kembang. Tugas disana. Belum jelas juga sih, karena ia tak menceritakan hal itu padaku. Dan sepertinya memang tidak akan menceritakan hal itu padaku. hiks..hiks..

Persahabatan yang unik bukan?

Jika ada yang bertanya padaku, kapan kami akan menjadi sahabat sesungguhnya? Mungkin akan kujawab di atas mimbar, sambil mengenakan sarung, baju koko dan peci, aku berseru, “Jika kamu bertanya kapan persahabatan kami benar-benar dimulai, maka jawabannya sama dengan jawaban dari pertanyaan ‘kapan Israel dan Palestina berdamai?’, saat matahari tak lagi bersinar, saat itulah Israel dan Palestina berdamai. Mudah-mudahan sih gak sampai kiamat kebekuan kami berlangsung.. hehe…”

Tapi walau bagaimanapun, kutegaskan sekali lagi. Ia adalah sahabatku yang apa adanya. Ia tak pernah menuntut apa-apa dariku. Ia selalu bisa membuatku tersenyum, bahkan tertawa, lewat sms-sms yang dikirimnya. Ia selalu bisa mencerahkan dan memotivasiku saat aku mengeluh padanya. Thanks, ya, Abang…